Selasa, 22 September 2020

Protes Ledakan di Beirut, Pendemo Lebanon Buat Tiang Gantungan untuk Pemerintah

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiang gantungan palsu didirikan dalam protes 'Hari Penghakiman' Beirut untuk menuntut pertanggung jawaban pemerintah atas ledakan hari Selasa, di Beirut, Lebanon, 8 Agustus 2020.[CNN]

    Tiang gantungan palsu didirikan dalam protes 'Hari Penghakiman' Beirut untuk menuntut pertanggung jawaban pemerintah atas ledakan hari Selasa, di Beirut, Lebanon, 8 Agustus 2020.[CNN]

    TEMPO.CO, Jakarta - Warga Lebanon membuat tiang gantungan palsu sebagai simbol unjuk rasa untuk menuntut tanggung jawab pemerintah atas ledakan di Beirut.

    Ribuan demonstran berunjuk rasa di The Martyr's Square Beirut yang menyerukan "balas dendam" terhadap kelas penguasa politisi yang secara luas dianggap bertanggung jawab atas ledakan yang merusak sebagian besar ibu kota Lebanon.

    Dikutip dari CNN, 8 Agustus 2020, para pendemo mendirikan tiang gantungan yang disebut protes "Hari Penghakiman", karena kesedihan berubah menjadi kemarahan setelah 154 lebih orang tewas dan puluhan lainnya masih hilang. Sementara 5.000 lebih orang terluka.

    Para pengunjuk rasa juga memegang papan bertuliskan, "Di sinilah tali harus digantung." Tiang-tiang gantungan palsu telah menjadi simbol utama demonstrasi, yang menuntut agar mereka yang bertanggung jawab atas ledakan hari Selasa dimintai pertanggungjawaban, termasuk koruptor dan pejabat yang salah mengurus negara.

    Tiang gantungan didirikan di tempat yang sama di mana beberapa orang digantung lebih dari 100 tahun yang lalu oleh Kekaisaran Ottoman yang berkuasa karena memberontak melawan Istanbul. Patung The Martyr's Square dibangun untuk memperingati eksekusi tersebut.

    Pendemo melempar batu selama protes ketika mereka mencoba menerobos penghalang untuk mencapai gedung parlemen setelah ledakan hari Selasa, di Beirut, Lebanon 8 Agustus 2020. [REUTERS / Thaier Al-Sudani]

    Reuters melaporkan polisi anti-huru hara Lebanon menembakkan gas air mata ke arah pendemo yang mencoba menerobos penghalang untuk mencapai gedung parlemen di Beirut pada Sabtu selama protes penanganan pemerintah atas ledakan.

    Sekitar 7.000 orang berkumpul di Martyr's Square, dan beberapa di antaranya melempar batu ke arah polisi. Polisi menembakkan gas air mata ketika beberapa pengunjuk rasa mencoba menerobos pembatas yang memblokir jalan menuju parlemen, Reuters melaporkan.

    Massa demonstrasi di Lebanon meneriakkan "rakyat ingin jatuhnya rezim", nyanyian populer selama pemberontakan Musim Semi Arab tahun 2011.

    Teriakan "Revolusi, Revolusi" dan poster bertuliskan "Pergi, kalian semua pembunuh", ditunjukkan oleh para pendemo.

    Tentara dengan kendaraan yang dipasangi senapan mesin berpatroli di daerah bentrokan.

    "Sungguh ada tentara di sini? Apakah Anda di sini untuk menembak kami? Bergabunglah dengan kami dan kita bisa bersama-sama melawan pemerintah," teriak seorang perempuan.

    Ledakan hari Selasa, yang terbesar dalam sejarah Beirut, menghancurkan separuh kota. Pemerintah telah berjanji untuk meminta pertanggungjawaban mereka, tetapi hanya sedikit orang Lebanon yang yakin dengan janji pemerintah.

    "Mundur atau gantung diri," kata sebuah plakat yang dipasang di tiang gantungan.

    Sebelum ledakan, warga Lebanon telah menggelar protes berbulan-bulan terhadap pemerintah yang mereka anggap korup atas penanganan krisis ekonomi, dan kini terkait transparansi ledakan di Beirut.

    "Kami tidak percaya pada pemerintah kami," kata mahasiswa bernama Celine Dibo saat dia membersihkan darah dari dinding gedung apartemennya yang hancur. Saya berharap PBB akan mengambil alih Lebanon.

    Beberapa orang mengatakan mereka tidak terkejut bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron telah berkunjung minggu ini sementara para pemimpin Lebanon tidak.

    "Kami hidup di ground zero. Saya berharap negara lain akan mengambil alih kami," kata psikolog Maryse Hayek, 48 tahun, yang rumah orang tuanya hancur dalam ledakan itu.

    Presiden Prancis Emmanuel Macron menyaksikan kerusakan bangunan di lokasi ledakan di pelabuhan Beirut, Lebanon, Kamis, 6 Agustus 2020. Prancis telah mengirimkan dua tim penyelamat untuk membantu proses pencarian korban di antara reruntuhan bangunan. Thibault Camus Pool via REUTERS

    Partai Kataeb Lebanon, sebuah kelompok Kristen yang menentang pemerintah yang didukung oleh Hizbullah yang berpihak pada Iran, mengumumkan pengunduran diri ketiga anggota parlemen dari parlemen pada Sabtu.

    "Saya mengundang semua (anggota parlemen) yang terhormat untuk mengundurkan diri sehingga rakyat dapat memutuskan siapa yang akan memerintah mereka, tanpa ada yang memaksakan apapun kepada mereka," kata ketua partai Samy Gemayel, yang mengumumkan langkah tersebut saat pemakaman seorang anggota terkemuka kelompok yang meninggal dalam ledakan.

    Macron, yang mengunjungi Beirut pada Kamis, berjanji kepada massa yang marah bahwa bantuan untuk membangun kembali kota tidak akan jatuh ke tangan korup. Dia akan menjadi tuan rumah konferensi donor untuk Lebanon melalui tautan video pada Ahad, kata kantornya. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dia akan bergabung.

    Perdana menteri dan kepresidenan Lebanon mengatakan 2.750 ton amonium nitrat yang sangat eksplosif, yang digunakan untuk membuat pupuk dan bom, telah disimpan selama enam tahun tanpa tindakan pengamanan di gudang pelabuhan.

    Presiden Michel Aoun mengatakan pada hari Jumat penyelidikan akan memeriksa apakah itu disebabkan oleh bom atau gangguan eksternal lainnya. Aoun mengatakan penyelidikan juga akan mempertimbangkan jika ledakan itu karena kelalaian atau kecelakaan. Dua puluh orang terkait ledakan telah ditahan sejauh ini, kata Presiden Lebanon.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.