PM Prayuth Chan-o-cha Minta Kasus Pewaris Red Bull Diusut Tuntas

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pewaris Red Bull, Vorayuth Yoovidhya. AP

    Pewaris Red Bull, Vorayuth Yoovidhya. AP

    TEMPO.COBangkok – Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-o-cha memerintahkan otopsi kedua untuk saksi kunci yang tewas dalam kasus tabrak lari terkait pewaris kerajaan bisnis minuman berenergi Red Bull.

    Ini terjadi karena publik merasa kecewa dan marah setelah tuntutan hukum dalam kasus ini dihentikan polisi.

    Korban bernama Jaruchart Mardthong, 40 tahun, yang tewas pada kecelakaan sepeda motor pada Kamis pekan ini. Publik Thailand menduga-duga mengenai penyebab sebenarnya dari kematian Jaruchart itu.

    “Dia adalah saksi kunci dalam investigasi dugaan kasus pembunuhan polisi yang melibatkan Vorayuth “Boss” Yoovidhya,” kata Traisulee Traisoranakul, deputi juru bicara pemerintah Thailand pada Ahad, 2 Agustus 2020 seperti dilansir Reuters.

    Hasil awal otopsi kasus tewasnya Jaruchart belum diumumkan ke publik. Media lokal mengatakan keluarga korban berencana untuk mengkremasi jasad korban pada Ahad.

    Pada pekan lalu, polisi Thailand mengumumkan tuntutan hukum terhadap Vorayuth telah dicabut. Ini menimbulkan kemarahan publik atas budaya impunitas atau kekebalan hukum terhadap orang kaya dan orang-orang dengan koneksi pemerintahan yang bermasalah hukum.

    Traisulee mengatakan Perdana Menteri Thailand, Chan-o-cha, meminta keadilan ditegakkan untuk menghilangkan kecurigaan publik terkait penanganan kasus ini.

    “Perdana Menteri menegaskan kembali pemerintah akan membantu menegakkan keadilan dalam kasus ini. Setiap pelaku yang bersalah akan dihukum. Kasus ini tidak akan menjadi kasus yang tidak selesai terungkap dalam ingatan publik,” kata Traisulee.

    Polisi mengatakan Jaruchart meninggal di rumah sakit setelah motornya bertabrakan dengan pemotor lain, yang juga terluka tapi telah meninggalkan rumah sakit.

    PM Thailand telah membentuk komite untuk mengkaji putusan polisi mencabut tuntutan hukum terhadap Vorayuth.

    Sedangkan Vorayuth tidak hadir dalam delapan kali pemanggilan pengadilan. Dia dituduh menabrakkan mobil Ferrari hitam miliknya ke polisi Wichien Klanprasert hingga tewas lalu kabur. Saat itu, Vorayuth berusia 27 tahun.

    Otoritas Thailand masih mencari keberadaan Vorayuth lima tahun setelah insiden itu. Vorayuth lalu meninggalkan Thailand dan keberadaannya tidak diketahui saat ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.