Lakukan Penyelundupan Narkoba, Pesawat Australia Ini Malah Kecelakaan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Narkoba atau methylamphetamine. Getty Images

    Ilustrasi Narkoba atau methylamphetamine. Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Nasib sial dialami bandar narkotika Melbourne, Australia, yang berafiliasi dengan mafia Italia. Alih-alih berhasil menyelundupkan 500 kilogram kokain dari Papua Nugini, pesawat Cesna yang mereka gunakan malah jatuh saat lepas landas. Alhasil, semua kokain dari penyelundupan narkoba tersebut terungkap ke aparat setempat.

    "Mereka terlalu rakus, tidak memperhitungkan bahwa beban dari kokain yang diselundupan berpengaruh ke stabilitas pesawat," ujar keterangan pers Kepolisian Federal Australia, dikutip dari CNN, Sabtu, 1 Agustus 2020.

    Dari kecelakaan pesawat yang terjadi 26 Juli lalu tersebut, sebanyak lima tersangka telah ditahan. Mereka diperkarakan atas tuduhan berkomplot untuk penyelundupan narkoba ke Australia serta pencucian uang. Ancaman hukuman yang dihadapi kelimanya, penjara seumur hidup.

    Pilot pesawat terkait juga sudah diperkarakan. Ia menyerahkan diri dua hari setelah kecelakaan. Adapun ia juga yang menerbangkan pesawat dari Queensland, Australia ke Papua Nugini. Ia berniat terbang rendah, 3000 kaki di atas permukaan laut, agar tidak terendus radar.

    "Dengan pembatasan perjalanan yang tengah berlaku di Australia saat ini, akibat virus Corona, penyelundupan narkoba ini menunjukkan betapa opurtunisnya mereka," ujar Komisioner Kepolisian Federal Australia, Ian McCartney

    Nilai dari barang bukti kokain yang diamankan kurang lebih US$57 juta atau setara Rp837 miliar. Secara nilai, setara dengan 500 ribu kali transaksi narkotika di jalanan kota Australia. Adapun kasus ini adalah salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

    ISTMAN MP | CNN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anggaran Bansos Rp 31 Triliun untuk 13 Juta Pekerja Bergaji di Bawah Rp 5 Juta

    Airlangga Hartarto memastikan pemberian bansos untuk pekerja bergaji di bawah Rp 5 juta. Sri Mulyani mengatakan anggaran bansos hingga Rp 31 triliun.