PM Inggris Boris Johnson Tunda Relaksasi Lockdown Covid-19

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara di luar Downing Street No.10 setelah pulih dari penyakit virus Corona (COVID-19), di London, Inggris 27 April 2020. Johnson, bagaimanapun, sangat ingin menekankan bahwa negara itu tidak dapat mengambil risiko gelombang infeksi kedua.[Pippa Fowles / 10 Downing Street / Handout via REUTERS]

    Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbicara di luar Downing Street No.10 setelah pulih dari penyakit virus Corona (COVID-19), di London, Inggris 27 April 2020. Johnson, bagaimanapun, sangat ingin menekankan bahwa negara itu tidak dapat mengambil risiko gelombang infeksi kedua.[Pippa Fowles / 10 Downing Street / Handout via REUTERS]

    TEMPO.CO, London – Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengumumkan penundaan relaksasi lockdown setelah merebaknya kasus baru harian Covid-19.

    Kemunculan kasus baru ini menimbulkan kekhawatiran terjadinya gelombang kedua Covid-19.

    “Kita sekarang melihat adanya lampu peringatan menyala,” kata Boris Johnson kepada media di Downing Street saat ditanya soal gelombang kedua Covid-19 pada Jumat, 31 Agustus 2020 seperti dilansir Reuters.

    Johnson mengatakan,”Penilaian kami adalah kita harus menginjak rem untuk menjaga agar jumlah kasus baru Covid-19 ini tetap terjaga.”

    Boris Johnson mengatakan ini beberapa jam setelah Inggris menerapkan langkah pengetatan di Inggris bagian utara. Menurut dia, sejumlah lokasi publik seperti kasino, arena bowling, dan ice skating, yang awalnya akan beroperasi pada Sabtu, harus ditunda hingga dua pekan.

    Boris Johnson juga melarang acara resepsi pernikahan, yang dihadiri tamu undangan karena rawan penyebaran Covid-19.

    Saat ini, jumlah korban tewas akibat Covid-19 di Inggris mencapai 55 ribu orang. Ini merupakan tingkat kematian tertinggi di Eropa.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anggaran Bansos Rp 31 Triliun untuk 13 Juta Pekerja Bergaji di Bawah Rp 5 Juta

    Airlangga Hartarto memastikan pemberian bansos untuk pekerja bergaji di bawah Rp 5 juta. Sri Mulyani mengatakan anggaran bansos hingga Rp 31 triliun.