Hacker Cina Diduga Incar Data Pengembang Vaksin Virus Corona Moderna

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kantor pusat Moderna Therapeutics, yang sedang mengembangkan vaksin virus corona di Cambridge, Massachusetts, AS, 18 Mei 2020. [REUTERS / Brian Snyder]

    Kantor pusat Moderna Therapeutics, yang sedang mengembangkan vaksin virus corona di Cambridge, Massachusetts, AS, 18 Mei 2020. [REUTERS / Brian Snyder]

    TEMPO.CO, Jakarta - Hacker yang berafiliasi dengan pemerintah Cina diklaim mencuri data perusahaan bioteknologi yang mengembangkan vaksin virus corona, Moderna Inc, menurut pejabat AS yang melacak aktivitas peretasan dari Cina.

    Cina membantah pada Jumat bahwa peretas yang terkait dengannya menargetkan Moderna.

    Pekan lalu Departemen Kehakiman AS mengadili dua warga Cina yang dituduh memata-matai AS, termasuk tiga lembaga AS yang melakukan riset medis virus corona.

    Dokumen dakwaan mengatakan para peretas Cina "melakukan pengintaian" terhadap jaringan komputer sebuah perusahaan bioteknologi Massachusetts yang diketahui bekerja pada vaksin coronavirus pada Januari, menurut laporan Reuters, 31 Juli 2020.

    Moderna, yang berbasis di Massachusetts dan mengumumkan kandidat vaksin Covid-19 pada Januari, mengkonfirmasi kepada Reuters bahwa perusahaan telah melakukan kontak dengan FBI dan diberitahu tentang "kegiatan pengintaian informasi" yang dicurigai oleh kelompok peretasan yang disebutkan dalam dokumen dakwaan minggu ini.

    "Moderna tetap waspada terhadap ancaman keamanan siber potensial, mempertahankan tim internal, layanan dukungan eksternal, dan hubungan kerja yang baik dengan otoritas luar untuk terus meninjau ancaman dan melindungi informasi berharga kami," kata juru bicara perusahaan Ray Jordan, yang menolak untuk memberikan perincian lebih lanjut.

    Pejabat keamanan AS, yang berbicara dengan syarat anonim, tidak memberikan rincian lebih lanjut. FBI dan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS menolak untuk mengungkapkan identitas perusahaan yang menjadi target para peretas Cina.

    Surat dakwaan 7 Juli menuduh bahwa dua peretas Cina, yang diidentifikasi sebagai Li Xiaoyu dan Dong Jiazhi, melakukan peretasan selama satu dasawarsa yang baru-baru ini mencakup penargetan kelompok penelitian medis Covid-19.

    Jaksa penuntut mengatakan Li dan Dong bertindak sebagai kontraktor untuk Kementerian Keamanan Negara Cina, sebuah badan intelijen negara. Pesan-pesan yang ditinggalkan beberapa akun digital Li dengan nama alias "oro0lxy" tidak dikembalikan. Rincian kontak untuk Dong tidak tersedia.

    Cina berulang kali membantah terlibat dalam peretasan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina di Beijing, Wang Wenbin, menyebut tuduhan peretasan Moderna itu tidak berdasar.

    Kandidat vaksin Moderna adalah salah satu riset vaksin paling awal dan terbesar oleh pemerintahan Trump untuk memerangi pandemi.

    Pemerintah federal mendukung pengembangan vaksin perusahaan dengan hampir setengah miliar dolar AS dan membantu Moderna meluncurkan uji klinis hingga 30.000 orang yang dimulai bulan ini.

    Cina juga berlomba untuk mengembangkan vaksin, menyatukan sektor negara, militer dan swasta untuk memerangi penyakit yang telah menewaskan lebih dari 660.000 orang di seluruh dunia.

    Juru bicara Kemenlu Cina, Wang Wenbin, mengatakan Cina telah memimpin dalam pengembangan vaksin virus corona di dunia dan seharusnya Cina yang lebih khawatir jika negara lain menggunakan peretas untuk mencuri teknologinya.

    "Kami sama sekali tidak perlu terlibat dalam pencurian untuk mencapai posisi terdepan ini," kata Wang.

    Dua perusahaan riset medis tak dikenal lainnya yang disebutkan dalam dakwaan Departemen Kehakiman AS digambarkan sebagai perusahaan bioteknologi yang berbasis di California dan Maryland. Jaksa mengatakan para peretas "mencari celah keamanan" dan "melakukan pengintaian" terhadap mereka.

    Dokumen pengadilan menggambarkan perusahaan California itu bekerja pada penelitian obat antivirus dan menyarankan perusahaan Maryland secara terbuka mengumumkan upaya untuk mengembangkan vaksin pada bulan Januari. Ada dua perusahaan yang cocok dengan deskripsi tersebut, Gilead Sciences Inc dan Novavax Inc.

    Juru bicara Gilead, Chris Ridley mengatakan perusahaan itu tidak mengomentari masalah keamanan siber. Novavax tidak akan mengomentari kegiatan keamanan siber spesifik tetapi mengatakan, "Tim keamanan siber kami telah diberitahu tentang dugaan ancaman asing yang diidentifikasi dalam berita."

    Seorang konsultan keamanan yang akrab dengan banyak penyelidikan peretasan yang melibatkan perusahaan bioteknologi terkemuka pada tahun lalu, mengatakan kelompok-kelompok Cina yang diyakini secara luas terkait dengan Kementerian Keamanan Negara Cina, adalah salah satu kekuatan utama yang menargetkan penelitian Covid-19 secara global.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anggaran Bansos Rp 31 Triliun untuk 13 Juta Pekerja Bergaji di Bawah Rp 5 Juta

    Airlangga Hartarto memastikan pemberian bansos untuk pekerja bergaji di bawah Rp 5 juta. Sri Mulyani mengatakan anggaran bansos hingga Rp 31 triliun.