Selesai Jalani Operasi Kelenjar Empedu, Raja Salman Keluar dari RS

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Raja Salman bin Abdulaziz hadir melalui tautan video KTT G20 yang digelar virtual tentang penyakit virus Corona (COVID-19), di Riyadh, Arab Saudi 26 Maret 2020. [Bandar Algaloud / Atas perkenan Kerajaan Saudi / Handout Kerajaan Saudi via REUTERS]

    Raja Salman bin Abdulaziz hadir melalui tautan video KTT G20 yang digelar virtual tentang penyakit virus Corona (COVID-19), di Riyadh, Arab Saudi 26 Maret 2020. [Bandar Algaloud / Atas perkenan Kerajaan Saudi / Handout Kerajaan Saudi via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Penguasa Arab Saudi, Raja Salman bin Abdulaziz, telah keluar dari Rumah Sakit King Faisal di Riyadh. Ia menjalani operasi kelenjar empedu setelah dirawat di sana selama hampir 1 bulan.

    Dikutip dari Reuters, Jumat, 31 Juli 2020, Raja Salman tampak terlihat lebih bugar ketika keluar dari Rumah Sakit King Faisal. Ia berjalan mantap dengan tongkatnya sembari ditemani anaknya, Pangeran Mohammed bin Salman. Tidak lupa Raja Salman menggunakan masker untuk memenuhi protokol kesehatan virus Corona.

    Raja Salman didiagnosis menderita pembengkakan di kelanjar empedu pada akhir Juni lalu. Ia kemudian langsung dilarikan ke Rumah Sakit King Faisal pada 2 Juli untuk menjalani pemeriksaan.

    Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, ia dipastikan harus menjalano operasi. Ia kemudian membuat pengumuman tersebut ketika menggelar rapat jarak jauh dari rumah sakit.

    Selama berada di Rumah Sakit King Faisal, Raja Salman memang tidak libur dari tugas-tugasnya. Ia tetap bekerja dan menggelar rapat dari sana via video conference. Dokumen-dokumen penting pun dibawanya ke rumah sakit.

    Di saat ia menjalani perawatan di rumah sakit, berbagai peristiwa penting terjadi di Arab Saudi. Beberapa di antaranya mulai dari perburuan Kepala Eks Intelijen Arab Saudi Saad Al-Jabri hingga digelarnya lagi Ibadah Haji dengan protokol kesehatan baru.

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.