Korea Utara Perketat Perbatasan Setelah Status Darurat Virus Corona

Foto arsip Kota Kaesong yang disebut di lockdown setelah seseorang warga Korea Utara yang kembali dari Korea Selatan secara ilegal diduga terinfeksi Covid-19. Ini merupakan pertama kalinya Korut melaporkan status darurat sejak virus ini merebak di dua negara perbatasannya, CIna dan Korea Selatan sejak awal tahun 2020. REUTERS/Lee Jae-Won

TEMPO.CO, Jakarta - Korea Utara menerapkan langkah-langkah pencegahan yang lebih keras terhadap virus corona pada Selasa, setelah Korut mengkarantina kota perbatasan Kaesong.

Langkah-langkah karantina yang ketat dan penyaringan distrik sedang berlangsung, bersamaan dengan alat tas, pakaian pelindung, dan peralatan medis, dengan cepat dipasok, menurut laporan kantor berita KCNA.

Langkah itu diambil setelah pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengumumkan keadaan darurat pada Minggu setelah seseorang pembelot yang dicurigai terinfeksi virus kembali dari Korea Selatan.

Korea Utara melaporkan telah menguji 1.211 orang pada 16 Juli dengan semua hasil negatifnya kembali, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin. Laporan itu mengatakan 696 warga Korea Utara dikarantina.

Perangkat untuk memfasilitasi 1.000 tes telah tiba di Korea Utara, kata WHO. Ada 15 laboratorium yang ditunjuk untuk menguji Covid-19 di Korea Utara.

Seorang pria berjalan di depan aparteman di Kota Kaesong, kota perbatasan di Korea Utara, 9 Mei 2019. Orang tersebut merupakan pelarian yang kabur ke Korea Selatan tiga tahun lalu, dan kembali ke Korut pada bulan Juli. Shutterstock

Korea Utara memiliki sistem perawatan kesehatan terbatas dengan rumah sakit yang kekurangan listrik, obat-obatan, dan air. Korea Utara sudah lama tergantung pada WHO untuk membeli obat-obatan karena sanksi menyulitkan Korut untuk impor.

Dalam beberapa bulan terakhir, Korut menerima alat tes dan alat pelindung dari WHO dan negara-negara lain termasuk Rusia, tetapi beberapa di antaranya ditahan di perbatasan karena pembatasan yang diberlakukan Korut.

Korea Utara mengatakan awal bulan ini bahwa mereka telah memulai uji klinis awal pada vaksin untuk virus, tetapi para ahli skeptis karena Korut tidak memiliki teknologi atau laboratorium untuk mengembangkan vaksin Covid-19, kata Choi Jung-hun, mantan dokter Korea Utara yang membelot ke Korea Selatan pada 2012.

"Korea Utara bahkan tidak mampu menguji orang hanya sampai tiga atau empat bulan yang lalu," kata Choi, sekarang seorang peneliti di Korea University. "Tidak berdasar bagi mereka untuk mengklaim bahwa mereka mendaftarkan peserta untuk uji coba vaksin Covid-19 pada manusia."

Korea Utara mengatakan pada Minggu bahwa pembelot itu kembali ke kampung halamannya di Kaesong pada 19 Juli dan beberapa tes menunjukkan ia diduga terinfeksi virus corona. Korut juga mengatakan pemimpin Kim Jong-un menyatakan keadaan darurat untuk wilayah itu dan memblokir kota Kaesong untuk mencegah penyebaran virus.

"Penguncian total kota Kaesong, serta tindakan karantina oleh masing-masing wilayah dan tes virus sedang dilakukan secara ketat," kata Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) pada Selasa, dikutip dari Yonhap.

Korea Utara menyediakan berbagai pasokan karantina dan obat-obatan untuk Kaesong dan melakukan langkah-langkah untuk menyediakan makanan dan barang-barang sanitasi bagi penduduk, kata KCNA.

Korut juga memperketat blokade perbatasan, garis demarkasi, dan garis pantai, serta meningkatkan jumlah pos dan personel di pos-pos pemeriksaan utamanya untuk mencegah virus corona masuk.

KCNA meminta otoritas kesehatan untuk memperingatkan para pejabat memakai masker dan membersihkan tangan mereka.

Korea Utara telah mengklaim bebas dari virus corona, tetapi Korut telah mengambil tindakan yang relatif cepat, menutup perbatasannya sejak akhir Januari dan memperketat tindakan karantina.






Bahaya Diffuser dengan Campuran Cairan Antiseptik

7 jam lalu

Bahaya Diffuser dengan Campuran Cairan Antiseptik

Cairan antiseptik memiliki sejumlah kandungan yang membahayakan sehingga tak dianjurkan digunakan untuk campuran diffuser.


Begini Efek Setelah Mengidap Covid-19

15 jam lalu

Begini Efek Setelah Mengidap Covid-19

Usai mengidap Covid-19 ternyata dapat mempengaruhi fungsi kogitif otak. Apa efek samping lainnya?


PPKM Level 1 di Jawa-Bali dan Luar Jawa-Bali Diperpanjang hingga 7 November

1 hari lalu

PPKM Level 1 di Jawa-Bali dan Luar Jawa-Bali Diperpanjang hingga 7 November

Pemerintah memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) wilayah Jawa-Bali dan luar Jawa-Bali


DKI Jakarta Penyumbang Tertinggi Kasus Positif Covid-19 Hari Ini

3 hari lalu

DKI Jakarta Penyumbang Tertinggi Kasus Positif Covid-19 Hari Ini

Jumlah kasus terkonfirmasi positif COVID-19 pada Ahad, 2 Oktober 2022, bertambah 1.322 kasus dengan provinsi penyumbang tertinggi DKI Jakarta.


Solidaritas dan Donor Darah Penghuni Apartemen Lavande

3 hari lalu

Solidaritas dan Donor Darah Penghuni Apartemen Lavande

Ratusan penghuni Apartemen Lavande Residences, Jakarta Selatan mengikuti kegiatan donor darah bertempat di lantai dasar apartemen.


Update Covid Hari Ini: Bertambah 1.857 Kasus, Meninggal 19 Orang

5 hari lalu

Update Covid Hari Ini: Bertambah 1.857 Kasus, Meninggal 19 Orang

Update Covid hari ini Jumat 30 September 2022 bertambah 1.857 kasus sehingga total mencapai 6.431.624 orang.


Australia Hapus Wajib Isolasi Mandiri Covid-19, Ahli Kesehatan Khawatir

5 hari lalu

Australia Hapus Wajib Isolasi Mandiri Covid-19, Ahli Kesehatan Khawatir

Australia akan menghapus wajib isolasi mandiri di rumah lima hari untuk orang yang terinfeksi Covid-19, yang membuat ahli kesehatan khawatir


Airlangga Sebut Jokowi Ingin Penanganan Inflasi seperti Pengendalian Covid-19

5 hari lalu

Airlangga Sebut Jokowi Ingin Penanganan Inflasi seperti Pengendalian Covid-19

Jokowi ingin pengendalian inflasi dilakukan secara bersama-sama antara pemerintah pusat dan daerah.


Malaysia Cabut Wajib Masker di Pesawat

6 hari lalu

Malaysia Cabut Wajib Masker di Pesawat

Kementerian Kesehatan Malaysia mengeluarkan kebijakan baru tidak lagi mewajibkan penumpang menggunakan masker dalam pesawat terbang.


Sri Mulyani: Luka yang Disebabkan Pandemi Covid-19 ke Ekonomi Sangat Dalam

6 hari lalu

Sri Mulyani: Luka yang Disebabkan Pandemi Covid-19 ke Ekonomi Sangat Dalam

Sri Mulyani menjelaskan, masalah utama pandemi Covid-19 adalah terancamnya jiwa manusia.