1 Juta Warga Inggris Disebut Berhenti Merokok Akibat Virus Corona

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita merokok. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita merokok. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam empat bulan terakhir, kurang lebih 1 juta warga Inggris diestimasikan telah berhenti merokok akibat pandemi virus Corona. Hal tersebut diungkapkan penelitian terbaru dari Action on Smoking and Health (ASH) dan Universitas College London (UCL).

    "Kurang lebih 44 ribu orang di Inggris juga menggunakan pandemi virus Corona sebagai kesempatan untuk mencoba berhenti merokok," ujar hasil survei ASH dan UCL, dikutip dari CNN, Rabu, 15 Juli 2020.

    Sebelumnya, Pemerintah Inggris sudah memperingatkan bahwa mereka yang merokok berpotensi lebih mudah terserang penyakit yang identik dengan gejala virus Corona. Walaupun dampak virus Corona dan perokok belum didukung bukti kuat, peringatan tersebut terbukti efektif membujuk warga mengurangi atau bahkan berhenti merokok.

    Uniknya, menurut penelitian ASH dan UCL, mereka yang terbujuk untuk berhenti merokok adalah perokok muda, usia 16-29 tahun. Prosentase mereka dua kali lebih besar dibandingkan mereka yang berusia 50 tahun ke atas. Padahal, lansia adalah kategori penduduk yang lebih mudah terkena dampak virus Corona.

    Meski hasil survei menunjukkan temuan positif, pakar medis dari UCL, Sarah Jackson, tidak menutup kemungkinan mereka yang berhenti akan kambuh di kemudian hari. Sebab, trend selama ini menunjukkan mereka yang berhenti merokok tidak mampu bertahan lama.

    "Melihat angka berhenti merokok untuk jangka panjang cenderung rendah, temuan ini belum tentu menjadi penurunan yang signifikan ke depanya," ujar Sarah Jackson.

    "Pandemi ini masih ditahap awal dan data dampaknya terhadap kebiasaan merokok belum banyak... Akan menarik jika penurunan yang terjadi benar-benar konsisten beberapa bulan ke depan," ujar Sarah Jackson menambahkan.

    Direktur Pusat Kajian Tembakau dan Alkohol Universitas Nottingham, John Britton, menyebut hasil survei ASH dan UCL sebagai kabar bagus yang langka. Walau begitu, ia juga tidak mengingkari potensi temuan tersebut hanya jangka pendek.

    "Estimasi (ASH dan UCL) itu hanya dari sample kecil dan berdasarkan survei mereka sendiri. Reliabilitas temuannya belum bisa dipastikan. Namun, jika terbukti benar, ini adalah langkah positif," ujar John Britton mengakhiri.

    ISTMAN MP | CNN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Mitos Tentang Garam dan Bagaimana Cara Mensiasatinya

    Tidak makan garam bukan berarti tubuh kita tambah sehat. Ada sejumlah makanan dan obat yang kandungan garamnya meningkatkan risiko serangan jantung.