Menkes Jerman Minta Daftar Obat untuk Produksi di Eropa

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dexamethasone, obat yang telah beredar luas ini, ditemukan mampu mengurangi risiko kematian pasien Covid-19 dengan gejala yang parah. (REUTERS/YVES HERMAN)

    Dexamethasone, obat yang telah beredar luas ini, ditemukan mampu mengurangi risiko kematian pasien Covid-19 dengan gejala yang parah. (REUTERS/YVES HERMAN)

    TEMPO.CO, Berlin – Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn, mengatakan Uni Eropa perlu membuat daftar obat dan bahan baku yang harus di produksi di kawasan itu untuk mengurangi ketergantungan ke negara pihak ketiga.

    Spahn mengatakan ini tidak berarti semua produksi obat harus dibawa ke Eropa.

    Karena, tujuan dari produksi di kawasan Eropa adalah untuk mengurangi ketergantungan ke Cina terkait pasokan obat dan bahan bakunya.

    “Seharusnya kita tidak tergantung Cina untuk memutuskan pasokan memadai dari masker protektif,” kata Spahn terkait masker medis yang dipakai petugas medis dalam menangani pasien terpapar Covid-19 seperti dilansir Reuters pada Senin, 13 Juli 2020.

    Menurut Spahn, Jerman ingin mendorong Eropa yang lebih independen selama memimpin Dewan Presiden Uni Eropa, yang dimulai pada 1 Juli 2020.

    Secara terpisah, media DW melansir warga Jerman agar berhati-hati pada musim panas agar tidak terpapar Covid-19.

    “Kita bisa mencegah terjadinya gelombang kedua Covid-19 pada musim gugur dan dingin,” kata Spahn.

    Dia mengaku merasa prihatin melihat pemberitaan yang melansir banyak warga Jerman berpesta meski pandemi Covid-19 masih terjadi. “Risiko paparan Covid-19 cukup tinggi di pesta,” kata Spahn.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bandingkan Ledakan di Beirut dengan Bom Atom Hiroshima Nagasaki

    Pemerintah Lebanon meyakini ledakan di Beirut disebabkan 2.750 ton amonium nitrat. Banyak orang membandingkannya dengan bon atom Hiroshima Nagasaki.