Takut Tertular Corona, Cina Stop Impor Daging Babi dari Brazil

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menu olahan dari babi sangat digemari dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta. Panitia menyediakan peta, stan-stan yang menggunakan bahan daging babi dan mana yang tidak. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Menu olahan dari babi sangat digemari dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta. Panitia menyediakan peta, stan-stan yang menggunakan bahan daging babi dan mana yang tidak. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Cina memutuskan untuk menangguhkan impor daging babi dari dua pabrik di Brazil, JBS SA dan BRF SA. Menurut otoritas bea cuka Cina, penangguhan tersebut dilakukan karena mereka takut tertular virus Corona (COVID-19).

    "Cina untuk sementara menghentikan impor dari pabrik BRF di Lajeado dan pabrik merk Seara milik JBS di Tres Passos. Keduanya berada di negara bagian Rio Grande do Sul, selayan Brazil," sebagaimana tertulis pada situs Administrasi Bea Cukai Cina, dikutip dari kantor berita Reuters, Senin, 6 Juli 2020.

    Catatan di situs bea cukai tidak menyebutkan secara spesifik bahwa penangguhan disebabkan oleh virus Corona. Namun, virus Corona menjadi faktor penangguhan sudah dikonfirmasi oleh otoritas bea cukai di Cina.

    BRF mengaku tidak mendapatkan peringatan apapun soal penangguhan itu. Mereka baru mengetahuinya via catatan di situs Administrasi Bea Cukai Cina. Walau begitu, pihak BRF menyatakan bahwa mereka sudah kembali berkoordinasi dengan otoritas di Brazil dan CIna untuk bisa melanjutkan ekspor.

    Sementara itu, JBS enggan berkomentar banyak soal keputusan Cina. Pihak JBS hanya menegaskan bahwa daging babi mereka berkualitas tinggi dan pekerja pabriknya terlindungi dari virus Corona.

    Dengan ditangguhkannya impor daging babi dari BRF dan JBS, total Cina sudah menangguhkan impor dari enam pabrik daging Brazil. Cina sendiri adalah importir daging babi, sapi, dan ayam dari Brazil yang terbesar.

    Berhati-hatinya Cina soal impor daging ini menyusul sekian banyak kasus Corona yang berasal dari cluster pasar tradisional. Ketika wabah Corona terjadi untuk pertama kalinya, kasus pertama terjadi di pasar hewan Wuhan.

    Ketika gelombang kedua Corona terjadi di Beijing, lagi-lagi pemicunya wabah di pasar yang menjual daging. Meski begitu, hingga saat ini, korelasi antara penyebaran virus Corona dengan daging mentah belum pernah terbukti sepenuhnya. 

    "Secara teknis, sulit terjadi. Secara teoritis, memungkinkan saja kontaminasi terjadi ketika proses pemotongan dan pengolahan daging berlangsung," ujar Badan Pengawasan Makanan dan Agrikultur Federal di Jerman pada Juni lalu usai salah satu pabrik daging di sana menjadi cluster wabah Corona.

    Brazil adalah negara kedua paling terdampak oleh virus Corona. Mereka tercatat memiliki 1,6 juta kasus, 64 ribu korban meninggal, dan 978 ribu pasien sembuh terkait virus Corona (COVID-19).

    Sebagai perbandingan, Cina memilki 83 ribu kasus, 4 ribu korban meninggal, dan 78 ribu pasien sembuh.

    ADITYO NUGROHO | ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.