Ribuan Warga Australia Tolak Tes Covid-19 karena Teori Konspirasi

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fasilitas tes Covid-19 drive-through saat negara bagian Victoria mengalami lonjakan kasus wabah virus corona, di Melbourne, Australia, 25 Juni 2020. [AAP / Daniel Pockett via REUTERS]

    Fasilitas tes Covid-19 drive-through saat negara bagian Victoria mengalami lonjakan kasus wabah virus corona, di Melbourne, Australia, 25 Juni 2020. [AAP / Daniel Pockett via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Teori konspirasi Covid-19 telah menyebabkan puluhan ribu orang menolak tes Covid-19 di zona merah negara bagian Victoria, Australia.

    Menteri Kesehatan Negara Bagian Victoria, Jenny Mikakos, mengungkapkan lebih dari 10.000 orang menolak untuk dites Covid-19 di pinggiran kota yang sekarang di-lockdown.

    "Saat ini kemungkinan mereka menolak karena berbagai alasan, termasuk mereka yang mengaku telah diuji di lokasi yang berbeda, kami sedang menganalisis data itu," kata Mikakos, dikutip dari 7News, 4 Juli 2020.

    "Yang mengkhawatirkan bahwa laporan yang saya terima adalah bahwa beberapa orang percaya bahwa virus corona adalah konspirasi atau virus tidak akan berdampak pada mereka," ujar Mikakos.

    Salah satu teori konspirasi semacam itu mengklaim tes swab Covid-19 digunakan untuk menanamkan microchip.

    Alasan lain menolak tes Covid-19 mungkin karena orang tidak ingin mengambil risiko kehilangan pekerjaan atau uang, atau takut akan prosedur pengujian, menurut The Conversation.

    Wakil Kepala Staf Medis Profesor Michael Kidd mengatakan dia sangat prihatin orang-orang menolak untuk diuji Covid-19.

    "Jika mereka berada di daerah penularan masyarakat, mereka mungkin akan terpengaruh dan tidak menunjukkan gejala serta berisiko menulari orang lain," katanya pada Jumat.

    "Jika Anda didekati dan diminta untuk melakukan tes, harap patuhi," ujar Kidd. "Anda mungkin terinfeksi Covid-19 dan tidak memiliki gejala tetapi masih menulari dan membahayakan orang yang Anda cintai, keluarga, dan teman-teman Anda."

    Mikakos mengatakan otoritas kesehatan sedang menganalisis data untuk menentukan mengapa orang menolak tes, bahkan setelah 10 area kode pos Melbourne menerapkan lockdown untuk kedua kalinya sejak Kamis untuk mengendalikan penyebaran virus.

    Mikakos mengatakan pihak berwenang telah melewati target pengujian massal dengan lebih dari 164.000 orang diuji di Victoria dan melakukan hampir 95.000 tes rumah-ke-rumah di pinggiran kota berzona merah, ABC melaporkan.

    Tetapi Mikakos mengatakan bahwa lebih dari 10.000 orang telah menolak untuk diuji karena berbagai alasan, termasuk bahwa mereka mungkin telah dites swab, teori konspirasi, atau takut dikarantina.

    Victoria mencatat peningkatan kasus virus corona dua digit berturut-turut selama 17 hari, dengan 66 orang lainnya didiagnosis dalam semalam.

    Orang-orang terlihat berjalan di depan Gedung Opera Sydney dan Jembatan Pelabuhan Sydney setelah lockdown untuk mencegah virus corona (Covid-19) dilonggarkan di Sydney, Australia, 23 Juni 2020. [REUTERS / Loren Elliott / File foto]

    Dikutip dari The Age, Gubernur Victoria Daniel Andrews telah memperingatkan bahwa jika orang tidak mengikuti saran pemerintah untuk diuji dan mengasingkan diri jika mengalami gejala, lebih banyak bagian Melbourne dan Victoria mungkin harus di-lockdown.

    "Kami tidak ingin sampai melakukan itu," katanya.

    Dengan beberapa warga menolak tes karena teori konspirasi, Profesor Kidd menekankan bahwa orang tidak boleh mendapatkan informasi tentang virus dari media sosial.

    "Satu-satunya sumber informasi yang sebenarnya saya rekomendasikan adalah situs web health.gov.au," katanya.

    "Jika Anda mendengar teori yang berbeda dan Anda tidak yakin tentang hal itu, lakukan pencarian, lihat saran pemerintah Australia, itu berasal dari para ahli terbaik yang kami miliki di seluruh negeri, berdasarkan bukti di seluruh dunia.

    Profesor Kidd juga menyarankan agar orang-orang tidak mendengarkan teori konspirasi Covid-19 di media sosial dan agar merujuk pada dasar ilmiah.

    Jumlah orang yang menolak tes virus corona telah menimbulkan masalah apakah pemerintah harus mewajibkan tes Covid-19.

    Pemimpin Partai Buruh Australia, Anthony Albanese, mengatakan kepada Weekend Sunrise pada Sabtu bahwa tes Covid-19 adalah tanggung jawab tiap warga negara tetapi tidak yakin tentang legalitas seputar mandat pengujian.

    Menurut laporan Reuters pada 28 Juni, pejabat Victoria mengatakan awal pekan ini bahwa sekitar 30% dari pelancong yang kembali menolak tes Covid-19, dan Gubernur Andrews mengatakan tes Covid-19 akan menjadi prosedur wajib. Australia juga mewajibkan semua penduduk setempat yang kembali untuk karantina virus corona di hotel selama dua minggu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anggaran Bansos Rp 31 Triliun untuk 13 Juta Pekerja Bergaji di Bawah Rp 5 Juta

    Airlangga Hartarto memastikan pemberian bansos untuk pekerja bergaji di bawah Rp 5 juta. Sri Mulyani mengatakan anggaran bansos hingga Rp 31 triliun.