Warga Rakhine Mengungsi Karena Operasi Militer Myanmar

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengungsi etnis Rohingya berada di atas kapal KM Nelayan 2017.811 milik nelayan Indonesia di pesisir Pantai Seunuddon. Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, Aceh, Rabu, 24 Juni 2020. Kapal pembawa pengungsi dari Myanmar ini ditemukan terdampar sekitar 4 mil dari pesisir Pantai Seunuddon.  ANTARA/Rahmad

    Pengungsi etnis Rohingya berada di atas kapal KM Nelayan 2017.811 milik nelayan Indonesia di pesisir Pantai Seunuddon. Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, Aceh, Rabu, 24 Juni 2020. Kapal pembawa pengungsi dari Myanmar ini ditemukan terdampar sekitar 4 mil dari pesisir Pantai Seunuddon. ANTARA/Rahmad

    TEMPO.CO, Jakarta - Ribuan penduduk Rakhine State mengungsi seteah adminstrator lokal memperingatkan datangnya operasi militer Myanmar. Dikutip dari situs Channel News Asia, operasi yang akan terjadi adalah "operasi pembersihan".

    Operasi pembersihan tersebut pertama kali terungkap dari syrat pengurus di dewa Rathedaung, Aung Myint Thein. Aung Myint Thein mengirim surat ke kepala desa Kyauktan bahwa operasi militer akan dilakukan di sana. Dalih militer Myanmar, karena desa tersebut (dan desa-desa di sekitarnya) diduga menyembunyikan teroris AA.

    "Operasi pembersihan akan dilakukan secara paksa. Jika benar pertarungan dengan AA akan terjadi, jangan menetap di desa! Pergilah mengungsi untuk sementara waktu," ujar surat Aung Myint Thein sebagaimana dikutip dari Channel News Asia, Ahad, 28 Juni 2020.

    Surat Aung Myint Thein tidak secara spesifik menyebutkan dari mana perintah operasi pembersihan berasal. Namun, operasi tersebut dibenarkan oleh Kementerian Dalam Negeri Myanmar.

    Menteri Dalam Negeri, Kolonel Min Than, berkata bahwa perintah operasi tersebut datang dari Kementerian Urusan Perbatasan. Adapun Kementerian Urusan Perbatasan adalah satu dari tiga kementerian di Myanmar yang dikontrol oleh militer.

    Min Than menjelaskan bahwa target dari operasi tersebut adalah teroris AA. Durasi operasi bisa berlangsung selama kurang lebih sepekan, tergantung situasi. Adapun operasi tersebut, kata Min Than, hanya berlangsung di sebagian kecil desa, tidak semua desa di Rakhine State.

    "Mereka yang bertahan adalah mereka yang loyal terhadap AA" ujar Min Than menegaskan.

    Juru bicara Pemerintah Myanmar, Zaw Htay, membenarkan soal akan adanya operasi militer. Namun, ia mengatakan bahwa istilah "operasi pembersihan" tidaklah tepat. Selain itu, ia mengklaim surat perintah agar warga mengungsi dulu juga sudah dicabut.

    Sebagai catatan, AA adalah organisasi teroris yang didominasi oleh penganut Budha dari Rakhine. Misi utama mereka, meraih otonomi di kawasan barat Myanmar, Arakan.

    Hingga berita ini ditulis, sudah puluhan orang yang meninggal akibat konflik antara AA dan aparat Myanmar. Menurut data dari Save the Children, 18 anak-anak tewas dan 71 luka-luka akibat konflik sepanjang bulan Januari hingga Maret.

    Sementara itu, "operasi pembersihan" adalah istilah yang dipakai Myanmar sejak 2017 untuk mendeskripsikan operasi terhadap pemberontak dari komunitas muslim Rohingnya. Selama operasi tersebut berada, ribuan orang sudah melarikan diri dari rumah mereka ke Bangladesh.

    Salah satu penyintas menyebut militer Myanmar membunuh dan membakar banyak orang di Rakhine State selama operasi pembersihan. Namun, militer Myanmar mambantah tuduhan itu.

    ISTMAN MP | CHANNEL NEWS ASIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Masker Scuba Tak Efektif Halau Covid-19, Bandingkan dengan Bahan Kain dan N95

    Dokter Muhamad Fajri Adda'i tak merekomendasikan penggunaan masker scuba dan buff. Ada sejumlah kelemahan pada bahan penutup wajah jenis tersebut.