Malaysia Tak Bisa Lagi Menampung Pengungsi Rohingya

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melakukan evakuasi paksa pengungsi etnis Rohingya dari kapal di pesisir pantai Lancok, Kecamatan Syantalira Bayu, Aceh Utara, Aceh, Kamis 25 Juni 2020. Warga terpaksa melakukan evakuasi paksa 94 orang pengungsi etnis Rohingya ke darat yang terdiri dari 15 orang laki-laki, 49 orang perempuan dan 30 orang anak-anak tanpa seizin pihak terkait, karena warga menyatakan tidak tahan melihat kondisi pengungsi Rohingya yang memprihatikan di dalam kapal sekitar 1 mil dari bibir pantai dalam kondisi. terutama anak-anak dan wanita dalam kondisi lemas akibat dehidrasi dan kelaparan. ANTARA FOTO/Rahmad

    Warga melakukan evakuasi paksa pengungsi etnis Rohingya dari kapal di pesisir pantai Lancok, Kecamatan Syantalira Bayu, Aceh Utara, Aceh, Kamis 25 Juni 2020. Warga terpaksa melakukan evakuasi paksa 94 orang pengungsi etnis Rohingya ke darat yang terdiri dari 15 orang laki-laki, 49 orang perempuan dan 30 orang anak-anak tanpa seizin pihak terkait, karena warga menyatakan tidak tahan melihat kondisi pengungsi Rohingya yang memprihatikan di dalam kapal sekitar 1 mil dari bibir pantai dalam kondisi. terutama anak-anak dan wanita dalam kondisi lemas akibat dehidrasi dan kelaparan. ANTARA FOTO/Rahmad

    TEMPO.CO, Jakarta - Malaysia tidak bisa lagi menampung pengungsi Rohingya dari Myanmar. Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin pada Jumat, 26 Juni 2020, mengatakan perekonomian negaranya saat ini sedang terseok-seok dan SDM yang menyusut sebagai dampak pandemik virus corona.

    Malaysia yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, telah menjadi negara incaran bagi etnis Rohingya yang ingin mendapatkan kehidupan lebih baik setelah meletusnya bentrokan maut yang diduga dipimpin oleh militer Myanmar pada 2017. Akan tetapi, Malaysia baru-baru ini menolak masuknya perahu-perahu yang membawa para pengungsi Rohingya.

    Warga melakukan evakuasi paksa pengungsi etnis Rohingya dari kapal di pesisir pantai Lancok, Kecamatan Syantalira Bayu, Aceh Utara, Aceh, Kamis 25 Juni 2020. Warga terpaksa melakukan evakuasi paksa 94 orang pengungsi etnis Rohingya ke darat yang terdiri dari 15 orang laki-laki, 49 orang perempuan dan 30 orang anak-anak tanpa seizin pihak terkait, karena warga menyatakan tidak tahan melihat kondisi pengungsi Rohingya yang memprihatikan di dalam kapal sekitar 1 mil dari bibir pantai dalam kondisi. terutama anak-anak dan wanita dalam kondisi lemas akibat dehidrasi dan kelaparan. ANTARA FOTO/Rahmad

    Ratusan etnis Rohingya bahkan ditahan di otoritas Malaysia di tengah kemarahan warga lokal yang menuding WNA sebagai penyebar virus corona sehingga keuangan negara tersedot.

    “Kami tak bisa lagi menampung lebih banyak pengungsi karena SDM dan kapasitas kami sudah tidak memungkinkan lagi, yang diperparah oleh pandemik Covid-19. Namun rasanya tidak adil bagi Malaysia untuk mengakomodasi pengungsi yang terus berdatangan,” kata Muhyiddin, seperti dikutip dari reuters.com.

    Perlakuan terhadap etnis minoritas Rohingya dari Myanmar telah membuat negara anggota ASEAN terbelah, di mana Indonesia dan Malaysia mengkritik Myanmar dan geram dengan ulah para penyelundup yang mengoperasikan penyeludupan etnis Rohingya.

    Muhyiddin mendesak badan PBB untuk urusan pengungsi agar mempercepat penempatan etnis Rohingya di Malaysia ke negara ketiga. PBB memperkirakan ada lebih dari 100 ribu etnis Rohingya berlindung di Malaysia, namun kelompok-kelompok HAM menyebut angka itu di lapangan lebih besar.   


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Operasi Ketupat 2021 Demi Menegakkan Larangan Mudik, Berlaku 6 Mei 2021

    Sekitar 166 ribu polisi diterjunkan dalam Operasi Ketupat 2021 untuk menegakkan larangan mudik. Mereka tersebar di lebih dari 300 titik.