Sebulan Terakhir, 140 Polisi London Diserang Saat Bubarkan Pesta

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi berpatroli di taman St James, saat mewabahnya virus corona di London, Britain, Ahad, 5 April 2020. REUTERS/Henry Nicholls

    Polisi berpatroli di taman St James, saat mewabahnya virus corona di London, Britain, Ahad, 5 April 2020. REUTERS/Henry Nicholls

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian London, Cressida Dick, memastikan bahwa pihaknya tidak akan berhenti menertibkan pesta-pesta illegal selama pandemi Corona. Ia mengingatkan warga London bahwa berpesta selama masa pandemi Corona (COVID-19) tidak bisa diterima untuk saat ini.

    Korban penyerangan itu sendiri, kata Cressida Dick, sudah mencapai ratusan. Tiga pekan terakhir saja ada 140 personil Kepolisian yang diserang karena membubarkan pesta ilegal.

    "Pesta-pesta itu melanggar hukum. Di sisi lain, personil kami hanya mengerjakan tugas mereka sehingga tidak sepantasnya mereka diserang," ujar Cressida Dick sebagaimana dikutip dari Reuters, Jumat, 26 Juni 2020.

    Diberitakan sebelumnya, Kepolisian London mendapati dua pesta rave digelar secara ilegal pada hari Rabu dan Kamis kemarin. Keduanya di gelar di Notting Hill, London Barat serta Brixton, London Selatan.

    Namun, ketika pesta dibubarkan, personil Kepolisian yang bertugas menjadi target amukan perserta pesta. Di Brixton, misalnya, 22 personil Kepolisian London mengalami cidera dan beberapa mobil mereka menjadi korban vandalisme.

    Pemerintah Inggris mengutuk apa yang terjadi pada aparat. Walau mereka bisa memahami bahwa warga ingin menghabiskan waku bersenang-senang bersama, situasi pandemi Corona di Inggris belum kondusif.

    "Kami tahu bahwa pembatasan sosial selama berbulan-bulan membuat warga frustasi dan ingin menghabiskan waktu bersama-sama. Tapi, pesta rave illegal tidak bisa diterima untuk saat ini," ujar Sekretaris Lingkungan, George Eustice.

    Pesta ilegal di London bukan satu-satunya wujud bandelnya warga Inggris selama pandemi Corona. Di Bournemouth, Inggris selatan, status "Insiden Besar" diberlakukan gara-gara warga memenuhi pantai di sana. Bahkan, beberapa berkemah secara ilegal dan berkelahi karena pengaruh alkohol. 

    Hingga berita ini ditulis, Inggris tercatat memiliki 307 ribu kasus dan 43 ribu korban meninggal akibat virus Corona (COVID-19).

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Mitos Tentang Garam dan Bagaimana Cara Mensiasatinya

    Tidak makan garam bukan berarti tubuh kita tambah sehat. Ada sejumlah makanan dan obat yang kandungan garamnya meningkatkan risiko serangan jantung.