Sipir Kulit Hitam Sempat Dilarang Mendekati Pembunuh George Floyd

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto mugshot Derek Chauvin berbaju tahanan yang dirilis di sebuah penjara di Minneapolis, Minnesota, US. Ia ditangkap setelah terekam video menindih leher George Floyd dengan lutut hingga tidak dapat bernafas dalam sebuah penangkapan, hingga korban pingsan dan tewas setelah dirawat di rumah sakit. Department of Corrections Minnesota/Reuters

    Foto mugshot Derek Chauvin berbaju tahanan yang dirilis di sebuah penjara di Minneapolis, Minnesota, US. Ia ditangkap setelah terekam video menindih leher George Floyd dengan lutut hingga tidak dapat bernafas dalam sebuah penangkapan, hingga korban pingsan dan tewas setelah dirawat di rumah sakit. Department of Corrections Minnesota/Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Delapan sipir kulit hitam di penjara Ramsey County, Minnesota, sempat dilarang untuk bertugas di lantai yang sama dengan tersangka pembunuh George Floyd. Tersangka tersebut tak lain adalah Derek Chauvin, mantan polisi Minneapolis. 

    Menurut salah satu dari delapan sipir, kebijakan tersebut datang langsung dari Kepala Sipir, Steve Lydon. Ia mengaku kesal dan merasa dipermalukan atas kebijakan tersebut. Sebab, seolah-oleh dirinya dan teman-temannya dianggap membahayakan nyawa Derek Chauvin.

    "Ketika saya tiba di lantai 3 untuk melakukan inspeksi, saya baru menyadari bahwa semua sipir kulit hitam ditugaskan di lantai yang sama. Kami disingkirkan dari lantai 5 (lokasi Chauvin)," ujar sipir itu sebagaimana dikutip dari CNN, Selasa, 23 Juni 2020.

    Sipir lainnya menyatakan bahwa kebijakan tersebut langsung dibatalkan begitu dirinya dan tujuh sipir lainnya memprotes Lydon. Sekarang, mereka sudah diperbolehkan kembali bekerja hingga ke lantai lima.

    Menanggapi protes yang ada, Lydon berkata bahwa dirinya tidak bermaksud mempermalukan ataupun mendiskriminasi bawahannya. Ia mengaku melakukan hal tersebut karena khawatir akan keselamatan Chauvin dan perasaan sipirnya. Hal tersebut mengingat reaksi warga kulit hitam atas aksi Chauvin sungguh massif.

    Sebagai catatan, ketika Derek Chauvin membunuh George Floyd, aksinya menimbulkan reaksi berantai di seluruh penjuru Amerika. Unjuk rasa Black Lives Matter terjadi di mana-mana, patung-patung dengan jejak perbudakan dirobohkan, hingga pemerintah didesak untuk membubarkan Kepolisian Amerika.

    "Mengetahui pembunuhan George Floyd berpotensi menimbulkan trauma, saya merasa bertanggung jawab untuk melindungi karyawan saya. Saya membatasi kontak antara mereka dengan tersangka pembunuhan," ujar Lydon.

    Lydon menambahkan bahwa tidak memakan waktu lama bagi dirinya untuk membatalkan kebijakannya. Ia mengklaim pembatalan dilakukan tidak sampai sehari setelah kebijakan diberlakukan.

    "Saya menyadari saya membuat kesalahan dan saya meminta maaf kepada mereka yang merasa tersinggung," ujar Lydon mengakhiri. Hingga berita ini ditulis, status Lydon tengah dikaji, apakah ia akan dipertahankan atau tidak.

    ISTMAN MP | CNN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H