WHO: Konflik Antar Negara Jadi Ancaman di Tengah Pandemi Corona

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Christopher Black/WHO/Handout via REUTERS

    Direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Christopher Black/WHO/Handout via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengeluhkan tidak solidnya negara-negara anggota dalam memerangi pandemi virus Corona. Menurutnya, konflik antar negara dan kurangnya kesatuan dalam memerangi Corona adalah ancaman terbesar di tengah pandemi yang memakan ratusan ribu jiwa itu.

    "Dunia benar-benar darurat membutuhkan kesatuan dan solidaritas global. Politisasi pandemi memperburuk situasinya," ujar Ghebreyesus dalam forum kesehatan di World Government Summit sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Senin, 22 Juni 2020.

    Ghebreyesus tidak menyebut secara detil negara mana saja yang berkonflik di tengah pandemi Corona. Apabila mengacu pada ketegangan terkait WHO selama ini, maka nama yang kerap disebut WHO adalah Amerika dan Cina.

    Sebagaimana beberapa kali diberitakan, Amerika mengkritik WHO terlalu Cina sentris dan tidak kritis dalam menangani pandemi Corona. Padahal, menurut Amerika, Cina adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas terjadinya pandemi virus Corona. Saking kesalnya terhadap WHO, Amerika mencabut donasi ratusan juta Dollar yang biasa mereka berikan ke WHO.

    Amerika, sambil mengajak sekutu-kutunya, juga mendorong adanya reformasi WHO serta investigasi terkait asal usul virus Corona. Cina keras menolak usulan itu, menganggapnya sebagai langkah politis untuk memojokkannya. Namun, belakangan, Cina menerimanya asal WHO yang mengkoordinir investigasi. 

    Logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terpampang di pintu masuk kantor pusatnya di Jenewa, 25 Januari 2015. [REUTERS / Pierre Albouy / File Foto]

    Ghebreyesus melanjutkan bahwa WHO tidak mempermasalahkan tekanan berbagai negara untuk segera melakukan reformasi. Ia mengaku bahwa banyak hal terkait WHO harus diperbaiki, termasuk regulasi kesehatan internasional. Menurut Ghebreyesus, regulasi kesehatan internasional yang terbaru harus lebih terkoordinir, transparan, serta fleksibel dalam hal pendanaan.

    Namun, sebelum reformasi dilakukan, Ghebreyesus meminta negara-negara anggota WHO untuk menyelesaikan masalah di antara mereka. Menurutnya, terus berkonflik satu sama lain tak akan menyelesaikan masalah pandemi Corona. Lagipula, dirinya sudah mengatakan bahwa WHO akan melakukan evaluasi begitu pandemi mereda. 

    "Ancaman terbesar sekarang bukanlah virus Corona, tetapi kurangnya kepemimpinan dan solidaritas global," uja Ghebreyesus menegaskan kembali.

    Hingga berita ini ditulis, tercatat ada 9 juta kasus virus Corona (COVID-19) di seluruh dunia. Untuk angka kematian, ada 471 ribu orang diikuti angka pasien sembuh sebanyak 4,8 juta orang.

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.