Upaya Boikot Menguat Di Tengah Pertemuan India - Cina di Galwan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Garis perbatasan status quo Cina dan India yang disebut Line of Actual Control (LAC) di Ladakh timur.[The Indian Express]

    Garis perbatasan status quo Cina dan India yang disebut Line of Actual Control (LAC) di Ladakh timur.[The Indian Express]

    TEMPO.CO, Jakarta - Komandan militer India dan Cina akhirnya bertemu untuk meredakan tensi usai peristiwa berdarah di lembah Galwan. Dikutip dari Reuters, pertemuan berlangsung pada hari ini di Moldo, bagian dari wilayah kedaulatan Cina.

    Pertemuan tersebut menjadi yang kesekian bagi militer kedua negara. Kamis pekan lalu, pejabat eselon rendah sudah bertemu terlebih dahulu untuk membahas berbagai cara meredakan ketegangan. Namun, di tengah pertemuan itu, desakan boykot produk Cina menguat di India.

    "Seluruh warga India sangat-sangat marah dan mendorong adanya pembalasan yang pantas kepada Cina, baik dalam hal militer maupun ekonomi," ujar Sekretaris Jenderal Konfederasi Seluruh Pedagang India (CAIT), Praveen Khandelwal, sebagaimana dikutip dari Reuters, Senin, 22 Juni 2020.

    Diberitakan sebelumnya, tentara India dan Cina kembali berkelahi pekan lalu di lembah Galwan. Galwan adalah daerah perbatasan yang memisahkan Ladakh (India) dan Aksai Chin (Cina).

    Perkelahian antar tentara yang berjaga di sana sesungguhnya bukan hal baru. Tahun ini, hal tersebut terjadi beberapa kali. Namun, perkelahian terbaru pada Senin kemarin menewaskan 20 personil Militer India, menjadikannya yang terparah dalam 4 dekade terakhir.

    Baik India dan Cina sama-sama tidak mau disalahkan atas insiden tersebut. Mereka saling klaim bahwa pihak lawan yang bertanggung jawab karena memprovokasi. Bahkan, kedua negara mengancam akan memberikan reaksi keras jika situasi memburuk. Walau begitu, keduanya sepakat untuk mengupayakan deeskalasi.

    Banyak warga India tidak sepakat dengan pendekatan damai yang diambil. Mereka menuntut balasan keras. Salah satunya, mereka mendesak Perdana Menteri Narendra Modi untuk memboikot produk asal Cina. Karena tak kunjung direspon, CAIT akhirnya ikut mendesak.

    Khandelwal melanjutkan, CAIT tidak ingin India hanya memboikot produk Cina yang diperdagangkan di pasar fisik. Ia berkata, boikot juga harus dilakukan pada produk Cina yang diperdagangkan secara online. Untuk mengetahui mana saja barang dari Cina, Khandelwal mengaku sudah meminta Kementerian Perdagangan untuk mewajibkan label asal barang.

    "Kebanyakan produk e-commerce berasal dari Cina," ujar Khandelwal. Sebagai catatan, India adalah rekan dagang terbesar kedua Cina. Nilai transaksi mereka mencapai US$ 87 miliar. Defisit dagang dengan Cina adalah US$53,7 miliar, defisit terlebar yang dihadapi India. 

    Cina merespon desakan boikot lewat media mereka, Global Times. Dalam pernyataan sikap redaksinya, Global Times memperingatkan warga India untuk tetap tenang dan tidak memanas-manasi suasana. "PDB Cina lima kali dari India. Pengeluaran militer Cina juga tiga kali lebih besar," ujar Global Times di Twitter.

    Mantan Perdana Menteri India, Manmohan Singh, memperingatkan Modi untuk pikir panjang sebelum mengambil keputusan. "Aksi dan keputusan pemerintah akan menentukan citra pemerintah ke depannya," ujarnya.

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Masker Scuba Tak Efektif Halau Covid-19, Bandingkan dengan Bahan Kain dan N95

    Dokter Muhamad Fajri Adda'i tak merekomendasikan penggunaan masker scuba dan buff. Ada sejumlah kelemahan pada bahan penutup wajah jenis tersebut.