John Bolton Enggan Pilih Trump atau Joe Biden dalam Pemilu

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penasihat Keamanan Nasional John Bolton mendengarkan ketika Presiden AS Donald Trump mengadakan rapat kabinet di Gedung Putih di Washington, AS, 9 April 2018. [REUTERS / Kevin Lamarque]

    Penasihat Keamanan Nasional John Bolton mendengarkan ketika Presiden AS Donald Trump mengadakan rapat kabinet di Gedung Putih di Washington, AS, 9 April 2018. [REUTERS / Kevin Lamarque]

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat, John Bolton, mengaku tidak akan memilih Donald Trump maupun Joe Biden untuk pilpres AS 2020 yang digelar pada November.

    "Saya kira dia tidak cocok untuk menjabat," kata Bolton tentang Trump dalam wawancara dengan ABC News yang disiarkan pada Ahad, 21 Juni 2020. "Saya tidak berpikir dia memiliki kompetensi untuk melakukan pekerjaan itu. Saya tidak berpikir dia seorang Republik yang konservatif."

    "Saya tidak akan memilihnya (Trump) pada bulan November. Tentu saja tidak akan memilih Joe Biden," kata Bolton.

    Sebagai gantinya, Bolton mengatakan kepada Martha Raddatz dari ABC bahwa ia akan "menulis nama kandidat seorang Republikan konservatif di kertas suara saat pencoblosan."

    Sebelumnya The Daily Telegraph melaporkan pada Minggu malam bahwa Bolton, seorang Republikan sejati, mengatakan dia akan memilih mantan wakil presiden daripada Trump. Juru bicara Bolton mengatakan surat kabar itu salah.

    "Pernyataan ini salah. John Bolton tidak pernah mengatakan dia berencana untuk memilih Joe Biden," kata Sarah Tinsley, juru bicara Bolton, kepada CNN.

    Dalam wawancara dengan ABC, John Bolton berharap Trump hanya menjabat satu periode karena kepresidenannya merusak Amerika Serikat.

    Wawancara John Bolton dilakukan di tengah kejutan politik atas pengungkapan buku "The Room Where It Happened", yang ditulis Bolton untuk mengungkapkan pengalaman dia selama menjabat di bawah pemerintahan Trump. Buku ini mengklaim bagaimana kebijakan luar negeri dan kepentingan pribadi menyelimuti pemerintahan Trump. Gedung Putih berupaya untuk melarang John Bolton menerbitkan buku itu, meski salinan naskah sudah dimiliki organisasi media.

    Trump sendiri telah mengecam Bolton sebagai orang "gila" dan "pembohong", sambil menuduhnya mengungkapkan informasi rahasia dan menyerangnya secara pribadi. "Semua orang di Gedung Putih membenci John Bolton."

    Komentar-komentar itu bertentangan dengan apa yang dikatakan Trump beberapa bulan lalu setelah Bolton meninggalkan pemerintahan, mengatakan kepada wartawan pada November, "Saya suka John Bolton. Saya selalu akrab dengannya."

    Sejak sebagian isi buku itu bocor pada 23 Juni, Bolton dikritik dari dua kubu: kubu Trump dan oposisi Trump. Trump dan sekutunya menuduh Bolton mengkhianati kepercayaannya, sementara para penentang Trump menuduh John Bolton baru keluar sekarang melawan presiden, setelah sebelumnya menolak bersaksi saat dakwaan dan sidang pemakzulan Trump di DPR AS dan Senat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.