6 Fakta Soal Line of Actual Control yang Diperebutkan Cina-India

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bentrok paling mematikan dalam 5 dekade antara pasukan Cina dan India di Lembah Galwan di perbatasan yang disebut sebagai Line of Actual Control, 20 pasukan India tewas, namun dari sisi Cina tidak diketahui pasti. Foto/indiatimes.com dan trtworld.com

    Bentrok paling mematikan dalam 5 dekade antara pasukan Cina dan India di Lembah Galwan di perbatasan yang disebut sebagai Line of Actual Control, 20 pasukan India tewas, namun dari sisi Cina tidak diketahui pasti. Foto/indiatimes.com dan trtworld.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Sengketa wilayah perbatasan yang dinamai Line of Actual Control antara Cina dan Inggris sudah 60 tahun tanpa titik temu.

    Line of Actual Control membentang sepanjang lebih dari 4 ribu kilometer melintasi gletser, gurun salju, pegunungan, sungai, danau, dan Lembah Galwan yang memisahkan India dan Cina.

    Baik Cina maupun India hingga saat ini memiliki perbedaan persepsi tentang Line of Actual Control. Perbedaan persepsi ini membuat masing-masing pihak membuat manuver sehingga memanaskan hubungan kedua negara.

    Puncak mendidih terjadi pada Senin malam ketika pasukan tentara India bentrok dengan pasukan Cina yang menewaskan 20 tentara di pihak India dan lebih dari 70 tentara terluka. Dari pihak Cina, tidak ada penjelasan detil tentang jumlah tentara yang tewas maupun terluka.

    Cina menuding bentrokan dipicu oleh pasukan India yang beberapa kali menyeberangi memasuki wilayah Line of Actual Control yang dikuasai Cina. India juga membangun infrastruktur di sana seperti jalan dan jembatan.

    India juga menuding pasukan Cina beberapa kali melintas di wilayah demarkasi yang dikuasai Cina. Cina juga dituding membangun kamp-kamp di sana, mengerahkan pasukannya dalam jumlah besar ke Lembah Galwan yang dialiri sungai.

    Cina menjadi semakin agresif dengan melakukan patroli di sepanjang perbatasan Line of Actual Control.

    India juga melakukkan pembangunan infrastruktur dalam 7-8 tahun terakhir di Ladakh untuk meningkatkan akses ke Line of Actual Control.

    Berikut 6 fakta tentang Line of Actual Control sebagaimana dikutip dari Indian Express, Times of India, Hindustan Times.

    1.Line of Actual Control merupakan garis demarkasi yang memisahkan wilayah yang dikuasai Indai dan yang dikuasai Cina. Line of Actual Control yang berada di wilayah India sepanjang 3.488 kilometer dan yang dikuasai Cina sepanjang sektiar 2 ribu kilometer.

    2, Line of Actual Control dibagi atas 3 sektor, yakni sektor timur meliputi Arunachal Pradesh dan Sikkim, sektor tengah meliputi Uttarakhand dan Himachal Pradesh, dan sektor barat di Ladakh.

    3. Ketidaksepakatan terbesar kedua negara berada di sektor barat. Perdana menteri Jawaharlal Nehru dan Perdana Menteri Cina Zhou Enlai berusaha menyelesaikan persepsi berbeda tentang sektor barat yang disana terdapat sungai dan Lembah Galwan. Hingga pecah Perang tahun 1962 Zhou dan Nehru tidak menemukan solusi tentang batas sektor barat dan timur.

    4. Line of Actual Control kembali dibahas di masa Perdana Menteri Narasimha Rao dan Li Peng. Keduanya sepakat untuk menjaga perdamaian dan ketenangan di sepanjang garis demakarasi. Rao bahkan secara resmi menrima konsep Line of Actual Control sekembalinya dari Beijing tahun 1993.

    Rao dan Li Peng menandatangani Perjanjian Menjaga Perdamaian dan Ketenangan di Line of Actual Control. Untuk merekonsiliasi perbedaan tentang wilayah yang sudah bertahun-tahun disengketakan, dua negara sepakat membentuk Kelompok Kerja Bersama untuk mengklarifikasi Line of Actual Control.

    5. Peta Line of Actual Control tidak secara resmi dipertukarkan antar kedua negara, hanya peta sektor barat. Proses klarifikasi LAC secara efektif terhenti sejak tahun 2002. Selain itu, tidak tersedia peta untuk umum yang menggambarkan Line of Actual Control versi India.

    6. Saat Perdana Menteri Narendra Modi berkunjung ke Cina pada Mei 2015, Modi mengajukan klarifikasi Line of Actual Control  namun Cina menolaknya. Direktur Jenderal Urusan Asia di Kementerian Luar Negeri Cina, Huang Xilian waktu itu menjelaskan kepada beberapa jurnalis India bahwa Cina berusaha untuk mengklarifikasinya beberapa tahun lalu namun Cina menghadapi berbagai kendala, bahkan menghadapis ituasi rumit.

    Dia kemudian mengatakan Cina akan membuat situasi damai dan tenang di sepanjang Line of Actual Control, dan membuat segalanya lebih mudah dan tidak rumit.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.