Usai Pertemuan Bilateral, Trump Malah Kembali Ancam Cina

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Donald Trump mengamati alat penyeka swab test disaksikan Wakil Presiden Eksekutif Hardwood Timothy Templet dan Sekretaris Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan (HHS) Alex Azar melihat selama tur fasilitas manufaktur Produk Medis Puritan, di Guilford, Maine, AS, Jumat, 5 Juni 2020. Pemusnahan ini dilakukan di tengah tingginya kebutuhan alat penyeka untuk swab test virus corona.  REUTERS/Tom Brenner

    Presiden AS Donald Trump mengamati alat penyeka swab test disaksikan Wakil Presiden Eksekutif Hardwood Timothy Templet dan Sekretaris Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan (HHS) Alex Azar melihat selama tur fasilitas manufaktur Produk Medis Puritan, di Guilford, Maine, AS, Jumat, 5 Juni 2020. Pemusnahan ini dilakukan di tengah tingginya kebutuhan alat penyeka untuk swab test virus corona. REUTERS/Tom Brenner

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Amerika Donald Trump memperbarui ancamannya terhadap Cina terkait kesepakatan dagang mereka. Uniknya, hal itu dilakukan tak lama usai diplomat Amerika bertemu dengan perwakilan negeri tirai bambu tersebut di Hawai. Bahkan, di pertemuan tersebut, perwakilan Amerika menyebut Trump tak berniat memutus hubungan kerjasama dengan Cina karena sulit diwujudkan.

    Dikutip dari Reuters, Trump mengklarifikasi pernyataan diplomat Amerika bahwa dirinya tak berniat memutus kerjasama dengan Cina. Trump berkata, opsi itu selalu ia pertimbangkan. Namun, untuk mewujudkan hal itu, kata Trump, ada banyak hal yang harus ia kaji.

    "Ini bukan kesalahan duta besar Amerika. Mungkin saya saja yang kurang jelas menyampaikan. Amerika tetap menimbang opsi, dalam berbagai kondisi, membatalkan kesepakatan dagang seutuhnya dengan Cina," ujar Trump sebagaimana dikutip dari Reuters, Jumat, 19 Juni 2020.

    Pada Rabu kemarin, ketika pertemuan Cina dan Amerika digelar, diplomat Amerika Robert Lighthizer mengatakan bahwa pemutusan hubungan kerjasama ekonomi Amerika - Cina sulit diwujudkan. Sebab, menurutnya, perekonomian kedua negara saling bergantungan satu sama lain. Apabila pemutusan hubungan dilakukan bertahun-tahun lalu, Lighthizer menganggap itu lebih masuk akal.

    Lighthizer melanjutkan, Cina sendiri berniat menyelesaikan kesepakatan dagang tersebut. Problem yang dihadapi Cina, kata Lighthizer, adalah masalah pandemi virus Corona yang menyerang perekonomian mereka. Alhasil, belanja Cina terhadap produk-produk Amerika melamban.

    Target utama Cina untuk fase pertama perjanjian dagang adalah membelanjakan US$200 miliar untuk produk-produk dari Amerika. Hal itu ditargetkan tercapai dalam dua tahun. Namun, melihat situasi pandemi, Cina ragu target bisa tercapai.

    Menanggapi Trump, Kementerian Luar Negeri menyebut pertemuan antar diplomat mereka tergolong konstruktif untuk memperbaiki hubungan kedua negara. Namun, mereka meminta Amerika untuk menghormati posisi CIna untuk beberapa masalah internal mulai dari masalah Hong Kong hingga Taiwan.

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.