Militer AS Bahas Penghapusan Nama Tokoh Konfederasi Dipicu Demo

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kata-kata

    Kata-kata "Black Lives Matter" masih bisa dibaca sedikit di dasar patung Robert E. Lee di Charlottesville, Va, setelah para pekerja membersihkannya setelah vandalisme pada bulan Juni 2015. nytimes.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemimpin tertinggi militer Amerika Serikat membuka ruang diskusi bipartit tentang penghapusan nama-nama komandan militer Konfederasi di markas militer dipicu oleh gerakan anti rasisme mengecam kematian George Floyd akibat perilaku rasis polisi.

    Sedikitnya 10 markas besar dan instalasi militer AS diberi nama komandan militer Konfederasi untuk menghormati mereka. Misalnya Fort Lee, Fort Hood, Fort Benning, dan Fort Gordon.

    Menteri Angkatan Bersenjata AS Ryan McCarthy dan Menteri Pertahanan Mark Esper mengatakan membuka diskusi bipartit tentang topik ini. Keduanya kemudian menambahkan setiap instalasi Angkatan Bersenjata diberi nama prajurit yang menempati posisi penting dalam sejarah militer AS.

    "Dengan demikian, nama-nama bersejarah mewakili individu, bukan sebab atau ideologi," ujar keduanya dalam pernyataan resmi Angkatan Bersenjata AS, sebagaimana dilaporkan CNN, 9 Juni 2020.

    Sementara Markas Marinir AS telah memerintahkan untuk menghapus semua pajangan bendera Konfederasi di setiap instalansi marinir.

    Markas Marinir AS juga memerintahkan penghapusan semua gambar bendera Konfederasi dari kantor dan ruang penyimpanan hingga ke kapal dan kendaraan pemerintah.

    "Korps marinir harus menghapus bendera pertempuran Konfederasi dari semua ruang instalasi dan wilayah kerja untuk mendukung nilai-nilai utama kami, memastikan kohesi unit dan keamanan. dan menjaga ketertiban dan disiplin yang baik," ujar Markas Korps Marinir AS dalam perintahnya.

    Isu ini mencuat kembali setelah pengunjuk rasa memprotes rasisme dipicu kematian pria Afrika-Amerika, George Floyd pada 25 Maret lalu.

    Sekitar lima tahun lalu, isu ini muncul ketika terjadi penembakan di gereja Charleston, South Caroline, yang menewaskan 9 orang Afrika-Amerika. Selembar foto menunjukkan pembunuh 9 orang itu memegang bendera Konfederasi sebelum melakukan penembakan massal.

    Pentagon merespons kasus itu dengan menegaskan tidak akan menggantikan nama-nama pemimpin Konfederasi yang disematkan di markas maupun instalasi militer AS.

    "Hingga saat ini, tidak ada diskusi untuk menyesuaikan kebijakan penamaan," kata Steve Warren, juru bicara Pentagon.

    Menurut pemimpin urusan publik angkatan bersenjata AS, Malcolm B.Frost pada Juli 2015, nama-nama komandan konfederasi itu disematkan di markas maupun instalasi militer AS sebagai spirit rekonsiliasi, bukan pemisahan.

    Sejarah pendirian negara AS di antaranya mencatat tentang perang saudara untuk menaklukkan wilayah selatan atau Konfederasi pada 1861-1865.

    Konfederasi yang terdiri dari South Carolina, Misssissippi, Florida, Alabama, Georgia, Louisiana, Texas, Virginia, Arkansas, Tennessee, dan North Carolina menolak bergabung dengan AS dan ingin membentuk pemerintahan sendiri.

    Negara-negara Konfederasi berada di selatan Amerika, dengan kehidupan terutama sebagai petani atau agraris dan masih melakukan perbudakan.

    Perang Saudara berakhir dengan bergabungnya negara-negara Konfederasi dengan Amerika Serikat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.