Unjuk Rasa Online di Thailand Menolak Rasisme

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Sekitar 300 warga Thailand dan orang asing yang tinggal di negara itu menggelar unjuk rasa online menolak rasisme dan menuntut keadilan bagi George Floyd, pria kulit hitam yang tewas akibat kekejaman polisi rasis Amerika.

    Para pengunjuk rasa melakukan protes online dengan menggunakan Zoom karena larangan berkumpul di Thailand akibat wabah virus corona atau COVID-19.

    Mereka menuliskan di lengan mereka "I Can't Breathe" dan poster yang mengecam tindakan rasisme di AS.

    "Saya telah tinggal di tiga benua sekarang. Saya memiliki sahabat-sahabat dari komunitas Afrika, yang juga Amerika Hitam, dan anda lihat perbedaan mencolok dalam cara memperlakukan mereka," kata Natalie Bin Narkprasert, 28 tahun, salah seorang yang mengorganisasi unjuk rasa ini, sebagaimana dilaporkan Channel News Asia, 7 Juni 2020.

    "Anda tahu, semua orang memiliki harapan, semua orang memiliki impian, semua orang berdarah merah. Ini gila bahwa mereka masih ada di tahun 2020 ketika di 1963 ketika Martin Luther King berbicara tentang kemerdekaannya," ujarnya.

    Para pengunjuk rasa juga hening selama 8 menit 46 detik untuk mengenang rentang waktu polisi rasis Minneapolis menekan lututnya ke leher George Floyd yang tergeletak ditanah dengan kedua tangan diborgol hingga dia tidak dapat bernapas dan tewas di rumah sakit.

    Beberapa pengunjuk rasa juga menyuarakan rasisme di Asia dan berharap perubahan terjadi.

    Unjuk rasa anti rasisme yang dipicu kematian George Floyd di AS merupakan unjuk rasa menolak rasisme terbesar di dunia dalam beberapa dekade ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.