Uskup Ditelepon Paus Fransiskus Usai Berlutut untuk George Floyd

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Uskup Mark Seitz dari El Paso, Texas, berlutut di Taman Memorial El Paso memegang slogan Black Lives Matter pada 1 Juni. Seitz dan pendeta lain dari keuskupan berdoa dan berlutut selama delapan menit, ketika George Floyd, seorang pria kulit hitam tak bersenjata, ditindih dengan lutut di bagian leher oleh petugas kulit putih sampai meninggal 25 Mei.[CNS / Atas perkenan Keuskupan El Paso / Fernie Ceniceros / National Catholic Reporter]

    Uskup Mark Seitz dari El Paso, Texas, berlutut di Taman Memorial El Paso memegang slogan Black Lives Matter pada 1 Juni. Seitz dan pendeta lain dari keuskupan berdoa dan berlutut selama delapan menit, ketika George Floyd, seorang pria kulit hitam tak bersenjata, ditindih dengan lutut di bagian leher oleh petugas kulit putih sampai meninggal 25 Mei.[CNS / Atas perkenan Keuskupan El Paso / Fernie Ceniceros / National Catholic Reporter]

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang uskup Katolik di Texas menarik perhatian Paus Fransiskus setelah berlutut saat berdoa sebagai simbol solidaritas untuk George Floyd.

    Uskup Katolik Mark Seitz tidak tahu bahwa tindakan solidaritasnya di El Paso, Texas, akan disambut dengan panggilan telepon rasa terima kasih dari Paus Fransiskus.

    Dengan mata terpejam, memakai masker sambil memegang mawar putih di tangan dan plakat bertuliskan Black Lives Matter, Seitz dan 12 pastor dari Keuskupan El Paso berlutut mengheningkan cipta selama 8 menit dan 46 detik pada hari Senin, seperti dikutip dari CNN, 7 Juni 2020.

    Mereka berdoa dalam diam untuk George Floyd, seorang pria kulit hitam yang meninggal dalam tahanan polisi Minneapolis setelah seorang petugas berlutut di lehernya untuk waktu yang sama.

    "Sejujurnya, apa yang saya lakukan dan apa yang saya katakan hanyalah cara yang sangat kecil untuk mengambil bagian dalam apa yang dilakukan banyak orang dalam protes damai mereka," kata Seitz.

    Dalam sebuah wawancara dengan Catholic News Service, seperti dikutip Business Insider, Seitz mengatakan dia gugup ketika membuat gerakan berlutut.

    "Sulit untuk mengetahui apa yang harus dilakukan seorang uskup," katanya. "Tapi saya punya beberapa penasihat hebat, rakyat dan pendeta. Saya mencoba mendengarkan mereka, mendengarkan hatiku."

    "Terkadang, Anda hanya perlu melakukan lompatan ke sesuatu yang tidak terduga," ujarnya.

    Dua hari setelah peristiwa itu, Seitz baru saja selesai merayakan Misa ketika ia ditelepon dari Paus sendiri.

    "Melalui saya, dia mengekspresikan persatuannya dengan semua orang yang bersedia melangkah keluar dan mengatakan ini perlu diubah," kata Seitz. "Ini seharusnya tidak pernah terjadi lagi. Di mana pun ada kurangnya rasa hormat terhadap manusia, di mana ada penilaian berdasarkan warna kulit mereka, ini harus dihentikan."

    "Apakah itu dalam penegakan hukum, dalam bisnis, dalam pemerintahan, dalam setiap aspek masyarakat kita, ini harus berubah. Dan sekarang kita tahu dengan sangat jelas bahwa Bapa Suci menyampaikan ini dalam doanya."

    Selama doa mingguan Angelus Paus Fransiskus di Vatikan pada hari Rabu, ia berbicara atas nama Floyd dalam gerakan "yang relatif jarang" untuk Paus, menurut John Allen, analis senior Vatikan.

    Paus Fransiskus menyebut kematian George Floyd "tragis" dan mengatakan dia berdoa untuknya dan semua orang lain yang telah kehilangan nyawa mereka sebagai akibat dari dosa rasisme.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.