Mantan Menhan Kritik Cara Trump Tangani Unjuk Rasa George Floyd

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Donald Trump dan Menteri Pertahanan AS Jim Mattis menghadiri laga sepak bola antar akademi Angkatan Laut AS, di Lincoln Financial Field, Philadelphia, AS, 8 Desember 2018. REUTERS/Jim Young

    Presiden AS Donald Trump dan Menteri Pertahanan AS Jim Mattis menghadiri laga sepak bola antar akademi Angkatan Laut AS, di Lincoln Financial Field, Philadelphia, AS, 8 Desember 2018. REUTERS/Jim Young

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Menteri Pertahanan Amerika, Jim Mattis, tidak setuju dengan cara Presiden Donald Trump melibatkan militer untuk menangani unjuk rasa George Floyd. Menurut Mattis, yang keluar dari kabinet Trump tahun 2018, Trump mencoba memecah belah Amerika.

    "Trump adalah presiden pertama dalam hidup saya yang tidak mencoba untuk menyatukan warga Amerika. Dia bahkan tidak berpura-pura untuk mencoba," ujar Mattis sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Kamis, 4 Juni 2020.

    Sebagaimana diberitakan sebelumnya, aksi unjuk rasa yang banyak terjadi di Amerika saat ini adalah imbas dari kematian George Floyd. Floyd adalah warga kulit hitam di Minneapolis, Minnesota yang meninggal setelah kepolisian setempat menindih lehernya dengan lutut pekan lalu.

    Hingga berita ini ditulis, unjuk rasa sudah berlangsung lebih dari sepekan. Beberapa di antaranya berujung kerusuhan dan penjarahan di mana warga bertarung dengan aparat keamanan. Hal itu mendorong pemerintah negara bagian menerapkan jam malam di sejumlah kota.

    Presiden Donald Trump telah memberikan respon atas unjuk rasa George Floyd. Ia menyatakan akan melibatkan militer untuk mengendalikan unjuk rasa yang terjadi. Gubernur berbagai negara bagian menolak hal tersebut, namun Trump bersikeras. Ia sudah melakukannya di Washington DC.

    "Melibatkan militer dalam responnya, sebagaimana kita lihat di Washington DC, bisa memicu konflik baru, konflik yang tidak seharusnya terjadi. Konflik tersebut antara militer dan penduduk sipil," ujar Mattis.

    Menanggapi pernyataan Mattis, Trump mengatakan bahwa ia tidak menyukai gaya kepemimpinan Mattis saat dia masih menjadi Menteri Pertahanan Amerika. Trump bahkan mengatakan bahwa jasa Mattis terlalu dibesar-besarkan. Mattis, yang merupakan veteran marinir, kerap dianggap sebagai salah satu figur militer yang dihormati.  "Saya lega dia sudah tidak ada (di kabinet)," ujar Trump.

    Kritik Mattis menjadi kejutan bagi figur-figur militer di Pemerintahan Trump. Sebab, sejak keluar dari kabinet atas perbedaan pendapat, Mattis kerap menolak untuk berkomentar apapun soal kepemimpinan Trump.

    Sebelum Mattis, kritik serupa juga datang dari Admiral Angkatan Laut Mike Mullen dan veteran Militer Angkatan Darat Martin Dempsey. Keduanya adalah mantan panglima Militer Amerika.

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.