Ekonomi Turun, Calo Pekerja Seks Komersial di Jepang Meresahkan

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kawasan red-light di Tokyo, Jepang. Sumber: Reuters/asiaone.com

    Ilustrasi kawasan red-light di Tokyo, Jepang. Sumber: Reuters/asiaone.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang remaja laki-laki di Jepang, 17 tahun, ditahan oleh aparat berwenang setelah mencoba meyakinkan seorang polwan yang sedang menyamar sebagai warga sipil, untuk menjadi seorang pekerja seks  komersial. Remaja laki-laki itu rupanya sedang memulai ‘karir’nya sebagai perekrut perempuan untuk bekerja di industri seks.

    Situs asiaone.com mewartakan kejadian ini terjadi di distrik Fukuoka, Hakata, Jepang. Identitas remaja itu tidak dipublikasi ke publik itu. 

    Ilustrasi Pekerja Seks Komersial (PSK). starsexwork.org

    Dia mengajak polwan yang sedang menyamar tersebut agar mau membuat video seks sebagai salah satu cara mendapatkan uang di tengah pandemik virus corona.  

    Kepada polisi, remaja tersebut mengaku bekerja pada sebuah perusahaan dan sedang mencari wajah baru di industri seks. Remaja laki-laki tersebut mencari target di tengah keramaian di sebuah distrik pada tengah malam. Namun dalam interograsi lebih jauh, laki-laki itu rupanya seorang pengangguran dan tidak bekerja untuk siapa pun.   

    “Perusahaan saya menangani semuanya, mulai dari hostess di bar-bar sampai video 18+ maukah kamu bergabung dengan kami?,” kata remaja laki-laki itu saat menawarkan diri.

    Tindakan laki-laki tersebut bertentangan dengan peraturan pemerintah daerah Fukuoka yang mencegah situasi seperti itu.

    Undang-undang gangguan publik pertama kali dikeluarkan oleh pemerintah daerah Tokyo pada 2008 untuk menghentikan gangguan calo jalanan ilegal. Aturan itu diterbitkan menyusul derasnya komplain dari kalangan perempuan yang merasa dibombardir dengan tawaran pekerjaan di industri seks seperti di kawasan Shibuya, Shinjuku dan Ikebukuro, di mana itu semua adalah kawasan red-light distrik.   

    Konsep undang-undang gangguan publik itu lalu diadopsi banyak pemerintah daerah di lainnya di Jepang, termasuk Osaka dan Sapporo. Dengan pemberlakuan undang-undang itu, angka laporan komplain dari perempuan soal gangguan ilegal pada mereka pun berkurang.

    Akan tetapi undang-undang itu tidak serta-merta membuat para calo jalanan itu kehilangan akal. Biasanya mereka akan mencoba merayu para target dengan menyebut mereka bisa terkenal dan punya uang banyak karena wajah mereka mirip artis terkenal.  

    Dalam keadaan ekonomi Jepang yang menurun, naiknya angka pengangguran dan turunnya pendapatan, tampaknya calo-calo jalanan kembali turun ke jalan mencari target baru.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ekspor Benih Lobster, dari Susi Pudjiastuti hingga Edhy Prabowo

    Kronologi ekspor benih lobster dibuka kembali oleh Edhy Prabowo melalui peraturan menteri yang mencabut larangan yang dibuat Susi Pudjiastuti.