Satu Pengungsi Rohingya Tewas Terinfeksi Virus Corona

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengungsi Rohingya yang baru tiba, membangun rumah darurat di kamp pengungsian Kutupalang di Cox Bazar, Bangladesh, 4 Februari 2017. Berikut potret kehidupan pengungsi Muslim Rohingnya di pengungsian tidak resmi di Bangladesh. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

    Pengungsi Rohingya yang baru tiba, membangun rumah darurat di kamp pengungsian Kutupalang di Cox Bazar, Bangladesh, 4 Februari 2017. Berikut potret kehidupan pengungsi Muslim Rohingnya di pengungsian tidak resmi di Bangladesh. REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

    TEMPO.CO, Jakarta - Pihak berwenang Bangladesh mengkonfirmasi satu pengungsi Rohingya telah tewas akibat terinfeksi virus corona. Pria berusia 71 tahun ini meninggal di pusat karantina yang didirikan pemerintah dan beberapa lembaga kemanusiaan.

    Menurut Abu Thoha M.R Bhuiyan, kepala koordinator Komisi kantor Pengungsi, Pemulihan, dan Repatriasi, pengungsi Rohingya ini meninggal di kamp Ukhiya di Cox's Bazar. Sampel darah miliknya diambil dan hasil tes kemarin menyatakan dia positif terkena virus corona.

    Awal pekan lalu, pengungsi Rohingya tersebut telah dinyatakan mengalami gejala virus corona saat ditempatkan di pusat isolasi, sebagaimana dilaporkan ARAB News, 2 Juni 2020.

    Louise Donovan, juru bicara Badan PBB untuk urusan pengungsi atau UNHCR mengatakan, sedikitnya 29 pengungsi Rohingya telah dinyatakan positif terinfeksi virus corona setelah dilakukan tes.

    Situasi di kam pengungsi Rohingya yang padat membuat virus corona akan dengan mudah menyerang para pengungsi. Bayangkan, dengan luas lahan satu kilometer per segi dihuni sekitar 40 ribu orang. Sebanyak 34 kamp pengungsi di Bangladesh memiliki kepadatan penduduk  lebih dari 40 kali rata-rata jumlah populasi Bangladesh.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ekspor Benih Lobster, dari Susi Pudjiastuti hingga Edhy Prabowo

    Kronologi ekspor benih lobster dibuka kembali oleh Edhy Prabowo melalui peraturan menteri yang mencabut larangan yang dibuat Susi Pudjiastuti.