Pakar: Virus Corona Picu Perang Dingin Antara Cina dan Amerika

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Donald Trump berpartisipasi dalam program siaran langsung balai kota virtual Fox News Channel berjudul

    Presiden AS Donald Trump berpartisipasi dalam program siaran langsung balai kota virtual Fox News Channel berjudul "America Together: Returning to Work" tentang respons terhadap pandemi penyakit virus corona (COVID-19) yang disiarkan dari dalam Lincoln Memorial di Washington, AS 3 Mei 2020.[REUTERS / Joshua Roberts]

    TEMPO.CO, Jakarta - Terus memburuknya hubungan Cina dan Amerika semasa pandemi virus Corona (COVID-19) diperkirakan akan berujung pada Perang Dingin yang baru. Hal itu disampaikan oleh salah mantan penasehat dan negosiator Gedung Putih, Clete Willems, usai mengkaji perkembangan relasi Cina dan Amerika sejauh ini.

    "Saya tahu orang akan merasa tidak nyaman dengan istilah 'Perang Dingin', namun kenyataannya memang seperti itu. Ini adalah awal dari Perang Dingin yang baru dan bisa memburuk jika tidak ditangani dengan baik," ujar Willems sebagaimana dikutip dari CNBC, Selasa, 5 Mei 2020.

    Sebelum pandemi virus Corona menyerang, hubungan Cina dan Amerika memang sudah buruk. Keduanya kerap berseteru dan saling tuduh. Misalnya, tahun lalu, Presiden Amerika Donald Trump menuduh perusahaan teknologi Cina, Huawei, mencoba memata-matai pemerintah dengan infrastruktur 5G yange mereka siapkan. Kelanjutannya, Trump melarang perusahaan teknologi di Amerika untuk mensuplai perangkat teknologi apapun ke Cina.

    Perseteruan terbaru di antara keduanya adalah soal asal usul virus Corona. Trump menyebut virus Corona berasal dari Cina dan kemungkinan diciptakan di sana. Sementara itu Cina menyebut virus Corona diciptakan di Amerika baru kemudian di bawa ke Cina. Penasehat epidemi Gedung Putih. Anthony Fauci, sampai gerah dengan perdebatan keduanya karena secara sains sudah jelas virus Corona tercipta secara alami.

    Rencana terbaru Trump, terhadap Cina, adalah memberikan sanksi dagang terhadap mereka. Hal itu masih berkaitan dengan pandemi virus Corona. Wujudnya diperkirakan akan berupa tarif tinggi yang dibebankan kepada Cina.

    Willems, yang sempat terlibat dalam negosiasi dagang Cina dan Amerika, mengatakan bahwa perang keduanya baru akan usai jika mereka berniat mengakhirinya. Namun, sejauh yang ia lihat, kedua negara masih enggan untuk mengakhiri konflik tersebut.

    Soal Trump, misalnya, diyakini Willems belum akan berhenti menyerang Cina karena ia membutuhkannya untuk Pemilu Amerika 2020. Trump, kata Willems, membutuhkan kambing hitam untuk buruknya pertumbuhan ekonomi Amerika.

    Sementara Cina, kata Willems, aktif menyerang siapapun yang mengungkit-ungkit investigasi asal usul virus Corona. Hal itu tidak terbatas pada Amerika saja, namun juga pada Uni Eropa dan Australia yang mendukung investigasi virus Corona. Ia menduga Cina mencoba menyembunyikan sesuatu terkait virus Corona dan hal itu memperkeruh hubungan dengan Amerika yang sudah frustasi ke Cina.

    "Saya bukan tipe orang yang mempercayai teori konspirasi. Namun, jika Cina merasa tidak ada yang perlu mereka sembunyikan, kenapa mereka mengancam Australia, Uni Eropa, dan Amerika? Sejauh yang saya lihat, mereka hanya meminta adanya investigasi asal usul virus Corona (COVID-19)," ujar Willems.

    ISTMAN MP | CNBC


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.