Kematian Virus Corona Inggris Tertinggi Kedua di Eropa

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memindahkan jenazah korban virus Corona di Masjid Ghamkol Sharif yang dijadikan kamar mayat sementara bagi jenazah korban virus Corona, di Birmingham, Inggris, 21 April 2020. REUTERS/Carl Recine

    Petugas memindahkan jenazah korban virus Corona di Masjid Ghamkol Sharif yang dijadikan kamar mayat sementara bagi jenazah korban virus Corona, di Birmingham, Inggris, 21 April 2020. REUTERS/Carl Recine

    TEMPO.CO, Jakarta - Inggris menjadi negara dengan kasus kematian virus Corona tertinggi kedua di Eropa setelah Italia dengan total 26.000 kematian.

    Angka kematian yang dirilis pada Rabu kemarin mencatat sekitar 26.097 kematian di seluruh Inggris Raya setelah dites positif virus Corona pada 28 April, menurut Kesehatan Masyarakat Inggris (PHE), dikutip dari Reuters, 29 April 2020.

    Angka ini memasukkan kematian virus Corona di luar rumah sakit untuk pertama kalinya.

    Itu berarti Inggris telah menderita lebih banyak kematian COVID-19 daripada yang dilaporkan Prancis atau Spanyol, atau di belakang total kematian di Italia, yang memiliki jumlah kematian tertinggi di Eropa dan yang terburuk kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

    "Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa di balik setiap statistik ada banyak nyawa manusia yang secara tragis telah hilang sebelum waktunya," kata Menteri Luar Negeri Dominic Raab. "Kita masih melewati puncak dan...ini adalah saat yang sulit dan berbahaya dalam krisis."

    Petugas medis bertepuk tangan di luar Rumah Sakit Chelsea dan Westminster untuk memberi dukungan bagi sesama petugas medis di tengah wabah virus Corona, di London, Inggris, 16 April 2020. REUTERS/Kevin Coombs

    Tingginya angka kematian di Inggris meningkatkan tekanan pada Perdana Menteri Boris Johnson seperti halnya partai-partai oposisi yang menuduh pemerintahnya terlalu lambat untuk lockdown agar membatasi penularan dari virus Corona. Oposisi juga mengkritik Johnson terlalu lambat menyediakan tes massal dan terlalu lambat untuk mendapatkan peralatan pelindung yang cukup ke rumah sakit.

    Johnson kembali bekerja pada hari Senin setelah pulih dari COVID-19, yang membuatnya sakit parah dalam perawatan intensif di puncak wabah virus Corona. Saat ini dia merayakan kelahiran seorang bayi laki-laki pada hari Rabu bersama tunangannya Carrie Symonds.

    Hampir sepertiga dari semua rumah perawatan di Inggris telah melaporkan dugaan atau konfirmasi wabah COVID-19, menurut Sky News.

    Beberapa 4.516 rumah perawatan telah melaporkan wabah sejak 17 Maret hingga Senin minggu ini, sekitar 29% dari total rumah perawatan.

    Di setiap wilayah di Inggris, lebih dari seperlima panti jompo melaporkan kasus virus Corona.

    Menteri Kesehatan Matt Hancock mengatakan pada hari Selasa bahwa ia ingin mengungkapkan transparansi angka kematian virus Corona dengan memasukkan data kasus orang-orang di rumah perawatan dan masyarakat.

    Kepala penasihat ilmiah Sir Patrick Vallance telah mengatakan pada bulan Maret bahwa total kematian Inggris di bawah 20.000 akan menjadi hasil yang baik dalam penanganan virus Corona.

    Sementara itu, Raab mengatakan 52.000 lebih tes massal dilakukan di Inggris pada hari Selasa, hanya dua hari sebelum tanggal yang ditetapkan pemerintah untuk target 100.000 tes virus Corona per hari.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.