Lockdown Dikurangi, Bisnis Selandia Baru Langsung Langgar Aturan

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PM Selandia Baru, Jacinda Ardern, berpidato dalam peringatan serangan teror jamaah masjid atau National Remembrance Service di lapangan Hagley Park, Christchurch, pada Jumat, 29 Maret 2019.

    PM Selandia Baru, Jacinda Ardern, berpidato dalam peringatan serangan teror jamaah masjid atau National Remembrance Service di lapangan Hagley Park, Christchurch, pada Jumat, 29 Maret 2019.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelonggaran lockdown Corona (COVID-19) di Selandia Baru disambut dengan ratusan pelanggaran pembatasan sosial. Menurut Perdana Menteri Jacinda Ardern, setidaknya ada 104 pelanggaran dalam rentang 18 jam sejak lockdown dilonggarkan ke level 3.

    "Dari 104 yang dilaporkan Kepolisian, 21 telah diproses hukum dan 71 mendapat peringatan," ujar Ardern sebagaimana dikutip dari RNZ, Rabu, 29 April 2020.

    Sebagaimana diketahui, per Selasa kemarin, Selandia Baru melonggarkan lockdownnya satu level. Sebab, angka kasus virus Corona berhasil ditekan hingga hanya satu digit. Akhir pekan lalu, misalnya, hanya ada satu kasus virus Corona yang langsung disambut sebagai kemenangan Selandia Baru. 

    Dengan pelonggaran lockdown tersebut, sejumlah bisnis, fasilitas kesehatan, dan institusi pendidikan sudah boleh beroperasi kembali. Namun, pembatasan sosial antar warga tetap diberlakukan untuk memastikan angka kasus tidak meningkat lagi di Selandia Baru. 

    Ardern melanjutkan bahwa bisnis-bisnis yang kembali beroperasi tersebut pun banyak yang melanggar pembatasan sosial. Berdasarkan pengaduan yang diterima, kata Ardern, setidaknya ada 742 keluhan soal bisnis-bisnis yang tidak mematuhi pembatasan sosial.

    Kebanyakan bisnis yang tidak mematuhi aturan itu adalah gerai makanan cepat saji. Menurut Ardern, gerai-gerai makanan cepat saji tidak menduga bahwa pengunjung akan melonjak begitu lockdown dilonggarkan satu level. Alhasil, ketika bisnis dibuka kembali, mereka tidak menyiapkan peringatan dan para pegunjung terpaksa berdasak-desakan.

    "Kami akan menghubungi seluruh jaringan makanan cepat saji untuk memperingatkan mereka soal kewajiban mengikuti pembatasan sosial...Kami tidak akan ragu menerapkan aturan yang lebih ketat apabila perlu," ujar Ardern menegaskan.

    Direktur Kesehatan Umum Pemerintah Selandia Baru, Ashley Bloomfield, sudah menduga akan terjadi berbagai pelanggaran pembatasan sosial. Namun, apa yang terjadi sejauh ini, masih sesuai ekspektasinya.

    "Jelas kemarin ada banyak orang yang pergi ke luar. Saya juga melihat ada lebih banyak aktvitas lalu lintas. Anak-anak juga mulai ke sekolah meski saya rasa terlalu awal. Belum terlalu mengkhawatirkan, masih sesuai ekspektasi," ujar Bloomfield.

    Meski apa yang terjadi sesuai ekspektasi, Bloomfield juga mengaku khawatir warga akan lengah begitu lockdown dilonggarkan. Oleh karenanya, ia berharap warga tetap patuh terhadap pembatasan sosial yang berlaku, seperti menjaga jarak terhadap satu sama lain.

    "Saya tahu bahwa pasti menggoda sekali untuk kembali berbincang dengan orang-orang. Tapi, saya mohon, tetap patuhi jarak pembatasan sosial," ujarnya mengakhiri.

    Per hari ini, Selandia Baru memiliki 1474 kasus dan 19 korban meninggal akibat virus Corona (COVID-19). Jumlah kasus baru yang dicatatkan hanya dua.

    ISTMAN MP | RNZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.