Selandia Baru Sukses Lawan Virus Corona, Apa Strateginya?

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern selama konferensi pers bersama dengan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker di Brussels, Belgia 25 Januari 2019. [REUTERS / Yves Herman]

    Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern selama konferensi pers bersama dengan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker di Brussels, Belgia 25 Januari 2019. [REUTERS / Yves Herman]

    TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Jacinda Ardern telah mencabut lockdown level 4 Selandia Baru yang diberlakukan untuk memerangi virus Corona.

    Lockdown level 4 berlangsung empat pekan dan tanggal 27 April Selandia Baru menurunkan ke level 3, seperti dilaporkan New Zealand Herald, 29 April 2020.

    Ardern yang setiap hari bersama Direktur Jenderal Kesehatan Ashley Bloomfield memperbaharui informasi virus Corona optimistik Selandia Baru dapat berhasil.

    "Kami telah melakukan itu bersama-sama. Tidak ada penularan komunitas secara luas di Selandia Baru. Kami telah memenangkan pertempuran," kata Ardern, dikutip dari Sydney Morning Herald.

    Namun, Selandia Baru tidak merayakannya.

    "Itu memberi kami keyakinan bahwa kami telah mencapai tujuan kami untuk eliminasi, yang tidak pernah berarti nol tetapi itu berarti kami tahu dari mana kasus kami berasal," Ashley Bloomfield, Direktur Jenderal Kesehatan Selandia Baru, mengatakan pada hari Senin, dikutip dari CNN.

    Senin adalah hari terakhir dari hampir lima minggu tindakan lockdown tingkat empat yang ketat, yang digambarkan oleh Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern sebagai "kendala paling berat yang diberikan pada orang Selandia Baru dalam sejarah modern."

    Pada hari Selasa, negara itu mereda menjadi pembatasan yang tidak terlalu ketat, dengan 400.000 lebih warga Selandia Baru kembali bekerja dan 75% perekonomian negara itu beroperasi, menurut Ardern. Pembatasan level tiga yang baru juga berarti bahwa Selandia Baru akan dapat mengadakan pemakaman kecil dan membeli makanan yang dibawa pulang.

    Selandia Baru telah melaporkan 19 kematian dan 1.472 kasus virus Corona yang dikonfirmasi, menurut Johns Hopkins University. Sebanyak 1.214 kasus atau 82% dari kasus yang dikonfirmasi telah pulih, kata Departemen Kesehatan pada Selasa. Lalu bagaimana strategi Selandia Baru melewan virus Corona?

    1. Bergerak cepat

    Seperti banyak negara, Selandia Baru memiliki model yang menunjukkan bahwa wabah virus Corona dapat menghancurkan jika tidak ada tindakan segera. Tidak seperti beberapa negara lain, Selandia Baru merespons dengan relatif cepat.

    Ketika Ardern mengumumkan pada 14 Maret bahwa siapa pun yang memasuki negara itu perlu mengisolasi diri selama dua minggu, itu adalah salah satu pembatasan perbatasan terberat di dunia. Pada saat itu, negara ini memiliki enam kasus.

    Ketika, pada 19 Maret, Ardern melarang orang asing memasuki negara itu, ada 28 kasus yang dikonfirmasi.

    Dan pada 23 Maret, ketika Ardern mengumumkan bahwa negara itu akan dikunci, ada 102 kasus yang dikonfirmasi tanpa kematian.

    "Tindakan tegas, berjalan lebih cepat dan lebih awal, membantu menghilangkan virus yang terburuk," kata Ardern dalam sebuah pernyataan, Selasa.

    Ada beberapa alasan Selandia Baru mengambil tindakan tegas. Seperti yang dikatakan Ardern dalam konferensi pers pada 14 Maret, Selandia Baru adalah rute keberangkatan utama ke Kepulauan Pasifik dan negara tersebut memiliki tanggung jawab untuk melindungi tetangga Pasifiknya. Namun tindakan cepat itu juga untuk kepentingan warga Selandia Baru.

    "Di sini di Selandia Baru, kami tidak memiliki banyak tempat perawatan intensif dibandingkan dengan beberapa negara lain. Itulah sebabnya (Ardern) bertindak sangat cepat," kata ahli mikrobiologi Universitas Auckland Siouxsie Wiles awal bulan ini, dikutip dari CNN.

    Ketika negara lain melonggarkan lockdown ketika kasus menurun, Ardern memilih untuk memperpanjang lockdown tingkat empat yang paling ketat dalam lima hari.

    Meskipun begitu, banyak warga Selandia Baru mendukung pembatasan ini. Dalam survei Colmar Brunton pekan lalu, 87% mengatakan mereka menyetujui cara pemerintah merespons pandemi.

    Warga Selandia Baru membeli logistik untuk persiapan lockdown di supermarker Pak'nSave di Christchurch setelah penyebaran virus Corona (COVID-19), 23 Maret 2020.[REUTERS]

    2. Tes Corona secara luas

    Selandia Baru telah meningkatkan skala tes Corona, ke titik yang sekarang dapat dilakukan hingga 8.000 tes per hari, kata Ardern pada Selasa.

    Hingga saat ini, Selandia Baru telah melakukan 126.066 tes. Sebagai perbandingan, Inggris, negara dengan penduduk sekitar 13 kali lebih banyak dari Selandia Baru, telah menyelesaikan 719.910 tes.

    Tetapi bukti bahwa pengujian Selandia Baru bekerja adalah tingkat kepositifan tesnya, proporsi tes kembali positif.

    Mike Ryan, Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, mengatakan baru-baru ini bahwa tolok ukur yang baik adalah memiliki setidaknya 10 kasus negatif untuk setiap satu kasus positif yang dikonfirmasi. Itu berarti jika suatu negara bagian atau negara melakukan pengujian dan kembali dengan kasus positif sekitar 9% atau di bawah, maka kemungkinan itu sedang diuji dengan baik.

    Tingkat kepositifan tes Selandia Baru adalah sekitar 1%, menunjukkan bahwa tidak ada transmisi komunitas luas yang luput dari pengawasan.

    Pada hari Senin, Ardern mencatat bahwa di negara-negara lain di seluruh dunia, setiap orang yang terinfeksi virus Corona menginfeksi sekitar 2,5 orang. Di bawah lockdown Selandia Baru, yang telah turun menjadi 0,4, kurang dari setengah orang yang terinfeksi.

    3. Kombinasi sains dan kepemimpinan yang baik

    Pelajaran yang bisa dipetik dari Selandia Baru adalah kombinasi antara sains dan kepemimpinan yang baik, Profesor Michael Baker, dari Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Otago, mengatakannya awal bulan ini.

    Sepanjang periode lockdown, Ardern muncul bersama Bloomfield di konferensi pers reguler, dengan Ardern sering menyampaikan pertanyaan dari media kepadanya.

    Meskipun Bloomfield adalah pelayan publik, ia memenuhi syarat dalam kedokteran dan memiliki spesialisasi dalam kedokteran kesehatan masyarakat. Menurut sebuah pernyataan di situs web Departemen Kesehatan, bidang minat khusus profesionalnya adalah pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular.

    "Di Selandia Baru, telah menjadi penghubung yang bagus antara sains yang bagus, dan kepemimpinan yang cemerlang, dan keduanya bersama-sama menurut saya sangat efektif," kata Baker. "Saya benar-benar kecewa bahwa negara-negara yang memiliki jauh lebih banyak sumber daya sains top di dunia, yaitu AS dan Inggris, banyak negara di Eropa, tidak bernasib lebih baik daripada negara-negara seperti Selandia Baru yang memiliki sumber daya terbatas."

    Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern berbicara dalam pesan streaming langsung kepada warga Selandia Baru, di tengah lockdown untuk mengendalikan penyebaran penyakit virus Corona (COVID-19) di Selandia Baru, di Wellington, Australia, 25 Maret 2020, dalam gambar yang diambil dari video yang diperoleh melalui media sosial. Video diambil 25 Maret 2020. [Jacinda Ardern via REUTERS]

    Meskipun Selandia Baru saat ini dipandang sebagai negara yang sukses melawan pandemi virus Corona, bukan berarti mereka kembali ke kehidupan normal.

    Negara ini masih efektif terkunci, dengan sebagian besar orang masih disuruh tinggal di rumah dan tetap tinggal pada "bubbles" mereka, julukan untuk orang-orang yang mereka isolasi.

    "(Level tiga) tidak dan tidak dapat dikembalikan ke kehidupan pra-COVID-19," kata Ardern Senin. "Hari itu akan datang, tetapi belum datang."

    Jacinda Ardern menunjukkan bahwa pertempuran melawan virus Corona akan berlanjut sampai ada vaksin.

    Dan seperti negara lain, Selandia Baru masih memperjuangkan ekonominya karena sektor pariwisata Selandia Baru, yang menyumbang besar pendapatan negara, terpukul karena menurunnya wisatawan asing.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Traveling Virtual di Masa Pandemi Covid-19

    Dorongan untuk tetap berjalan-jalan dan bertamasya selama pandemi Covid-19 masih tinggi.