Korban Meninggal Virus Corona di Inggris Hampir 20.000

Staf medis menangani pasien di ambulans di RS St Thomas's, saat wabah virus corona Covid-19 di London, Inggris, 26 Maret 2020. REUTERS/Hannah McKay

TEMPO.CO, Jakarta - Jumlah korban meninggal virus Corona (COVID-19) di Inggris terus menanjak. Data terbaru, jumlahnya sudah mencapai 19.506 per hari ini, Sabtu, 25 April 2020. Padahal, sebelumnya, pemerintah Inggris memasang target agar jumlah korban jangan sampai menyentuh angka 20 ribu.

Hal tersebut mempersulit Inggris untuk segera mengambil keputusan apakah akan meringankan lockdown atau tidak. Namun, di satu sisi, anjloknya pertumbuhan ekonomi juga terus menekan Inggris untuk segera menghidupkan kembali kegiatan ekonomi. Pakar memprediksi Inggris akan jatuh ke masa resesi terburuk dalam 300 tahun terakhir.

"Secara garis besar, kami akan mengambil tindakan yang mengacu pada faktor sains dan kesehatan. Ini bukan perkara memilih antara ekonomi atau kesehatan masyarakat Inggris," ujar pernyataan pers Pemerintah Inggris sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters.

Selain memiliki 19.506 korban meninggal akibat virus Corona, Inggris juga mencatatkan 143.464 kasus. Statistik tersebut menempatkan Inggris di posisi kelima dalam hal negara paling terdampak virus Corona. Posisi pertama masih dipegang Amerika dengan 925.038 kasus dan 52.185 korban meninggal.

Memburuknya pandemi di Inggris diperparah dengan bermasalahnya berbagai penanganan di sana. Dalam hal pencatatan data, misalnya, Kantor Statistik Nasional Inggris menyampaikan bahwa angka yang ada sekarang 40 persen tidak akurat. Penyebabnya, salah pencatatan atau ada kasus yang tidak dicatatkan sebelumnya.

Selain pencatatan data yang bermasalah, jumlah tes virus Corona di Inggris pun jauh di bawah target. Inggris menargetkan 100 ribu tes sebelum akhir April. Sementara itu, data sejauh ini menunjukkan jumlah tes di Inggris baru ada di kisaran 20 ribu. Dengan kata lain, ada 80 ribu tes yang harus dikejar dalam sepekan ke depan.

Permasalahan terbaru, website untuk mendaftar tes virus Corona (COVID-19) mati pada Jumat kemarin. Ironisnya, hal itu terjadi beberapa jam setelah pemerintah Inggris menyampaikan akan memperbanyak jumlah tes. Pemerintah Inggris mengklaim 16 ribu peserta tes sudah terdaftar sebelum situs mendadak mati.

"Ada peningkatan yang tajam dalam hal pendaftaran tes. Kami minta maaf atas segala masalah yang terjadi. Kami akan terus meningkatkan jumlah tes," ujar Kementerian Kesehatan Inggris dalam pernyataan persnya.

ISTMAN MP | REUTERS






Selalu Waspada Covid-19, Perhatikan Beda Gejala Batuk dan Flu Biasa

16 menit lalu

Selalu Waspada Covid-19, Perhatikan Beda Gejala Batuk dan Flu Biasa

Covid-19 dan flu memiliki gejala yang serupa, namun terdapat perbedaan antara keduanya. Perlu memperhatikan perbedaannya.


Krisis Ekonomi Parah di Inggris, Anak Sekolah Pura-pura Makan dari Kotak Kosong

11 jam lalu

Krisis Ekonomi Parah di Inggris, Anak Sekolah Pura-pura Makan dari Kotak Kosong

Krisis ekonomi Inggris menyebabkan anak-anak kekurangan makan. Ada yang memakan karet karena lapar.


Daftar 14 Samsat Keliling Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi Hari Ini

22 jam lalu

Daftar 14 Samsat Keliling Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi Hari Ini

Polda Metro Jaya membuka layanan Samsat Keliling di 14 wilayah Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jadetabek) untuk hari ini.


Kanada Hapus Aturan Covid-19 untuk Pelancong

1 hari lalu

Kanada Hapus Aturan Covid-19 untuk Pelancong

Pemerintah Kanada mengumumkan akan segera mencabut semua pembatasan perjalanan Covid-19.


TKI Pemetik Buah di Inggris Masih Merana Tanpa Pekerjaan

1 hari lalu

TKI Pemetik Buah di Inggris Masih Merana Tanpa Pekerjaan

Nasib Pekerja Migran Indonesia (PMI/TKI), yang dijanjikan untuk ditempatkan di perkebunan Inggris masih tidak jelas.


Batuk Berkepanjangan, Hati-hati Gejala Long COVID-19

2 hari lalu

Batuk Berkepanjangan, Hati-hati Gejala Long COVID-19

Pakar menjelaskan batuk kronik berkepanjangan hingga beberapa bulan dapat mengindikasikan penyintas mengalami long COVID-19.


Inggris Akan Menaikkan Anggaran Pertahanan

2 hari lalu

Inggris Akan Menaikkan Anggaran Pertahanan

Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengungkap pihaknya akan meningkatkan anggaran pertahanan dalam beberapa tahun ke depan.


Warga China Kritisi Kebijakan Nol Covid, Dorong Keterbukaan

2 hari lalu

Warga China Kritisi Kebijakan Nol Covid, Dorong Keterbukaan

Warga China minta para ahli epidemi berbicara dan pemerintah melakukan penelitian komprehensif dan transparan untuk meninjau kebijakan nol Covid.


Pemeritah Resmi Tawarkan ORI022: Mulai dari Rp 1 Juta, Kupon 5,95 Persen

2 hari lalu

Pemeritah Resmi Tawarkan ORI022: Mulai dari Rp 1 Juta, Kupon 5,95 Persen

Pemerintah resmi membuka penawaran ORI (Obligasi Negara Ritel Indonesia) seri ORI022 mulai hari ini, Senin, 26 September 2022 pukul 09.35 WIB.


Protes Kematian Mahsa Amini, Iran Panggil Dubes Inggris dan Norwegia

3 hari lalu

Protes Kematian Mahsa Amini, Iran Panggil Dubes Inggris dan Norwegia

Iran memanggil duta besar Inggris dan Norwegia karena dinilai campur tangan dalam demo menggugat kematian Mahsa Amini