Ekonomi Inggris Terpukul karena Virus Corona

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Staf medis bersiap mengenakan APD di RS St Thomas's, saat wabah virus corona Covid-19 di London, Inggris, 31 Maret 2020. REUTERS/Hannah McKay

    Staf medis bersiap mengenakan APD di RS St Thomas's, saat wabah virus corona Covid-19 di London, Inggris, 31 Maret 2020. REUTERS/Hannah McKay

    TEMPO.CO, Jakarta - Perekonomian Inggris terseok-seok menyusul diberlakukannya lockdown. Pinjaman pemerintah Inggris naik dan pemerintah semakin ditekan untuk menyusun strategi keluar dari krisis COVID-19 ini. 

    Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang baru pulang dari rumah sakit setelah terkena COVID-19, menghadapi kritik dari politikus oposisi dan sejumlah epidemologis karena dianggap terlalu lamban dalam merespon wabah virus corona.

    Petugas memindahkan jenazah korban virus Corona di Masjid Ghamkol Sharif yang dijadikan kamar mayat sementara bagi jenazah korban virus Corona, di Birmingham, Inggris, 21 April 2020. REUTERS/Carl Recine

    Dikutip dari reuters.com, jumlah pasien virus corona yang meninggal di Inggris tercatat 18.738 orang. Para menteri di Inggris bekerja keras menggelar dilakukannya tes massal virus corona dan membuat program melacak jejak demi mengurangi penyebaran virus corona. Inggris telah melakukan sejumlah kebijakan, namun ini semua berdampak pada sektor ekonomi Inggris. 

    Para menteri tertatih menjelaskan tingginya angka kematian di Inggris akibat virus corona, terbatasnya tes virus corona dan kekurangan alat perlindungan diri bagi tim medis (APD). Kenyataan itu telah menciderai sektor dalam negeri Inggris sebagai negara dengan perekonomian terbesar kelima di dunia.     

    “Kami sedang mengalami kontraksi ekonomi yang lebih cepat dan dalam dalam 100 tahun terakhir atau mungkin dalam 7 abad terakhir,” kata Jan Vlieghe, pengatur suku bunga dari Bank Sentral Inggris. 

    Rencananya Inggris akan menerbitkan surat utang negara senilai 180 miliar GBP paa Mei dan Juli 2020. Utang Inggris saat ini sudah melebihi ambang batas sebanyak US$ 2,5 triliun. Pinjaman bersih di sektor publik bisa mencapai 14 persen dari GDP pada tahun ini atau terbesar dalam setahun sejak Perang Dunia II.

    Pemerintah Inggris belum mempublikasi strategi untuk melepaskan diri dari kondisi ini. Sedangkan Deutsche Bank berpandangan terbatasnya kapasitas tes virus corona adalah permasalahannya. Menanggapi kritik ini, Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock, berjanji akan melakukan tes virus corona pada 100 ribu orang per hari sampai akhir April 2020.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.