Parlemen Amerika Surati Trump Soal Serangan ke WHO

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal WHO [BUSINESS INSIDER]

    Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal WHO [BUSINESS INSIDER]

    TEMPO.CO, Jakarta - Kubu Demokrat di Parlemen Amerika menyurati Presiden Donald Trump terkait 'serangannya' ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhir-akhir ini. Dalam suratnya, mereka menuduh Trump sengaja mengkambinghitamkan WHO atas pandemi virus Corona untuk tujuan politis.

    "Serangan ke WHO patut diduga sebagai upaya (pemerintahan Trump) untuk mengalihkan perhatian dari buruknya penanganan serta respon politik terhadap pandemi virus Corona," ujar fraksi Partai Demokrat dalam suratnya sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Kamis, 23 April 2020.

    Tidak hanya mengkriitik, kubu Demokrat juga meminta Trump untuk segera mengaktifkan kembali donasi untuk WHO. Sebab, menurut mereka, dana tersebut berperan besar dalam penanganan virus Corona secara global.

    Sebagaimana diberitakan pekan lalu, Trump memutuskan untuk menahan donasi ke WHO karena merasa tidak puas dengan kinerja mereka. Selain itu, Trump juga merasa WHO bersikap bias terhadap China, membantu mereka menutup-nutupi kesalahan penanganan virus Corona, tak terkecuali soal asal usulnya. Dana yang ditahan, besarnya, US$400 juta.

    "Kebijakan tersebut benar-benar tidak masuk akal," ujar kubu Demokrat dalam suratnya.

    Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika, Mike Pompeo, malah mengancam tidak akan pernah mendanai WHO lagi. Sebab, menurutnya, sia-sia tetap memberikan donasi ke WHO apabila organisasi tersebut tidak membenahi penanganan pandeminya.

    Amerika, kata Pompeo, menuntut perubahan yang besar dan fundamental. Jika perubahan tersebut salah satunya adalah mengganti Dirjen WHO saat ini, Tedros Adhanom Ghebreyesus, Pompeo menyatakan Amerika tidak akan keberatan. Menurutnya, Ghebreyesus juga tidak bekerja maksimal.

    "Saya rasa kita perlu benar-benar melihat bagaimana cara WHO bekerja dan apa hasilnya. Ini bukan pertama kalinya kami (Amerika) berhadapan dengan PBB dalam situasi seperti ini. WHO membutuhkan perbaikan," ujar Pompeo.

    Kebijakan Trump perihal donasi ke WHO sebenarnya bisa diveto atau diubah tanpa harus melibatkan Trump. Mengutip Reuters, Konggres Amerika bisa mengubah keputusan Trump karena mereka yang mengawasi dan mengkontrol pengeluaran pemerintah federal.

    Untuk bisa mengubah kebijakan Trump, Konggres hanya perlu mengesahkan legislasi yang memberikan kekuatan hukum pada pendanaan ke WHO. Namun, untuk legislasi itu bisa digolkan, maka dukungan dari kubu Demokrat dan Republikan dibutuhkan. Sejauh ini, tidak semua anggota Republikan kesal dengan cara Trump memperlakukan pandemi virus Corona.

    Sebagai catatan, Amerika memiliki 849.092 kasus virus Corona (COVID-19) saat ini. Untuk korban meninggal, Amerika mencatatkan 47.681 orang yang diikuti dengan jumlah pasien sembuh sebanyak 84.050.

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.