Lockdown Wuhan Dicabut, Kekasih Lanjutkan Acara Pernikahan

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peng Jing (24) dan Yao Bin (28) berpose untuk ikuti sesi pemotretan prawedding usai berakhirnya masa Lockdown dalam pencegahan Virus Corona di Wuhan, ibu kota provinsi Hubei, Cina, 15 April 2020. REUTERS/Aly Song

    Peng Jing (24) dan Yao Bin (28) berpose untuk ikuti sesi pemotretan prawedding usai berakhirnya masa Lockdown dalam pencegahan Virus Corona di Wuhan, ibu kota provinsi Hubei, Cina, 15 April 2020. REUTERS/Aly Song

    TEMPO.CO, Jakarta - Pasangan kekasih di Wuhan mulai menggelar pernikahan setelah lockdown kota dicabut seiring menurunnya kasus virus Corona.

    Peng Jing menahan tawa saat dia melihat ke mata tunangannya yang berpakaian tuksedo, Yao Bin, yang susah payah untuk tidak menginjak

    "Tersenyumlah!" teriak fotografer.

    Pernikahan, ulang tahun, dan perayaan telah dibatalkan di seluruh dunia karena pandemi virus Corona tetapi di kota Wuhan di Cina, tempat virus itu pertama kali muncul, akhirnya dilanjutkan ketika pihak berwenang mengendurkan lockdown yang memisahkan keluarga, teman, dan kekasih selama lebih dari dua bulan, seperti dikutip dari Reuters, 16 April 2020.

    Peng, resepsionis 24 tahun dan pekerja bandara Yao, 28 tahun, telah menantikan pernikahan. Kini mereka mulai melakukan pemotretan yang setelah sempat tertunda karena wabah Corona.

    "Kami seharusnya mendaftarkan pernikahan kami pada 20 Februari 2020," katanya.

    Peng Jing (24) dan Yao Bin (28) berpose untuk ikuti sesi pemotretan prawedding usai berakhirnya masa Lockdown dalam pencegahan Virus Corona di Wuhan, ibu kota provinsi Hubei, Cina, 15 April 2020. REUTERS/Aly Song

    Lockdown pada 23 Januari menghentikan rencananya, dan memaksa biro pendaftaran pernikahan di seluruh Cina untuk menutup jasa mereka. Lebih dari 50.000 orang telah terinfeksi di Wuhan dan 2.579 telah meninggal karena virus itu.

    "Saya mengirimnya pulang dan hari berikutnya lockdown terjadi," kata Yao. "Saya sangat tidak bahagia."

    Sementara Yao terus bekerja, pasangan itu tetap menjaga agar tidak bertemu satu sama lain, hanya berkomunikasi melalui aplikasi perpesanan WeChat.

    "Dia terus mengirimi saya sesuatu untuk dimakan dan diminum karena lockdown berarti bahwa kita tidak bisa keluar untuk membeli barang-barang, tetapi saya takut, bagaimana jika dia tertular saat dalam perjalanan? Situasinya sangat serius saat itu," katanya.

    Mereka hanya berhasil bertemu langsung pada akhir Maret, ketika kantor Peng dibuka kembali.

    "Saya diliputi oleh emosi," katanya tentang pertemuan itu.

    Pasangan itu mendaftarkan pernikahan mereka pada Sabtu lalu, beberapa hari setelah biro pendaftaran pernikahan kota buka, dan sekarang membuat persiapan untuk mengadakan pesta pernikahan tradisional mereka pada bulan Mei pasca lockdown virus Corona.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.