PBB Waswas Kurangnya Akses Air Bikin Virus Corona Naik

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi air kran. Sumber: edition.cnn.com

    Ilustrasi air kran. Sumber: edition.cnn.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi PBB bidang ekonomi dan sosial wilayah Asia Barat atau ESCWA memprediksi 74 juta orang bakal kekurangan akses pada fasilitas dasar seperti cuci tangan. Kekhawatiran itu diserukan di tengah penyebaran virus corona di negara-negara Arab.

    ESCWA yang bermarkas di Beirut, Lebanon, menekankan mencuci tangan dengan sabun dan air sangat efektif melawan virus. Sayang, cuci tangan ini membutuhkan air sekitar 9 – 12 liter per orang per hari. Itu artinya rata-rata setiap hari diperlukan 4 sampai 5 juta kubik meter air di rumah tangga.

    Ilustrasi cuci tangan. pixabay.com

    Situasi ini diperburuk dengan pasokan air ledeng yang tidak memadai di 10 dari total 22 negara-negara Arab. Dengan begitu hampir 87 juta jiwa masyarakat di kawasan Asia Barat kemungkinan bakal kekurangan akses pada sumber-sumber air di rumah-rumah mereka. Ini artinya otoritas wajib menyediakan sumber air bagi masyarakat demi menghindari risiko infeksi yang lebih besar.  

    “Diperkirakan 26 juta pengungsi dan orang-orang terlantar di kawasan berisiko besar tertular virus COVID-19 karena kurangnya air, sanitasi dan layanan kebersihan,” tulis ESCWA, seperti dikutip dari aa.com.tr.

    ESCWA dalam keterangannya menyebut di Jalur Gaza hanya 1 dari 10 rumah tangga yang memiliki akses ke air bersih menyusul sulitnya kondisi warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan Israel.

    Sejak 2006, Israel telah memblokade Jalur Gaza, tempat tinggal hampir 2 juta warga Palestina. Banyak sektor terdampak oleh wabah virus corona, seperti ekonomi, kesehatan dan pendidikan.    

    Di Palestina, ada sekitar 329 kasus virus corona. Sedangkan angka kematian karena virus corona sebanyak dua orang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.