Siarkan Berita Dampak Lockdown, 2 Pejabat TV di Yordania Ditahan

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mohammad al-Khalidi, kanan, dan Fares Sayegh, kiri, ditahan oleh militer Yordania. Sumber: Twitter/middleeastmonitor.com

    Mohammad al-Khalidi, kanan, dan Fares Sayegh, kiri, ditahan oleh militer Yordania. Sumber: Twitter/middleeastmonitor.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Militer Yordania menahan dua pejabat tinggi sebuah stasiun televisi karena menyiarkan sebuah segmen yang memperlihatkan para buruh yang mengeluh karena tak bisa bekerja setelah pemerintah memberlakukan lockdown. Aturan lockdown dilakukan demi menghentikan penyebaran virus corona.

    Dikutip dari middleeastmonitor.com, dua orang yang ditahan itu adalah pemilik Roya TV, Fares Sayegh, dan Direktur Pemberitaan televisi tersebut Mohammad al-Khalidi. Pada Jumat, 10 April 2020, Roya TV mengkonfirmasi penahanan dilakukan pada Kamis, 9 April 2020.  

    “Jaksa penuntut umum dari pengadilan keamanan negara telah memerintahkan penahanan Sayegh dan al-Khalidi selama 14 hari terkait sebuah pemberitaan yang disiarkan,” demikian bunyi keterangan Roya TV.

    Ribuan mobil disita untuk menegakkan jam malam guna mencegah penyebaran virus corona. Sumber: english.alarabiya.net

    Dalam keterangan itu disebut, Roya TV mendukung upaya pemerintah Yordania agar bisa melalui krisis ini. Roya TV bekerja secara professional dan patriotis dengan menghormati aturan hukum dan peradilan Yordania yang adil.

    Tindakan penahanan itu dikecam oleh Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) dengan mengatakan otoritas Yordania harusnya bekerja sama dengan media menyampaikan kepada warga Yordania dampak luas penyebaran COVID-19 dan bukannya memenjarakan media yang mengekspos kegelisahan publik. Pemerintah Yordania dinilai seharusnya merespon khawatiran masyarakat terkait virus corona.

    Coordinator CPJ wilayah Yordania, Sherif Mansour, menyerukan agar al-Khalidi dan Sayegh segera dibebaskan.    

    Sebelumnya pada Rabu, 8 April 2020, Roya TV menayangkan sekelompok orang di Ibu Kota Amman yang mengatakan mereka terpaksa cuti karena adanya pemberlakuan jam malam. Aturan lockdown telah membuat mereka sekarang tak punya uang pemasukan.

    “Saya harus memberi nafkah keluarga saya. Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya mencuri atau menjual narkoba? Haruskan kita mulai mengemis di jalan?,” kata seorang warga.

    Pemerintah Yordania memberlakukan status darurat pada Maret 2020 yang segera disusul lockdown secara nasional. Langkah itu dilakukan demi menekan penyebaran virus corona yang mematikan. Mereka yang melanggar aturan lockdown, terancam hukuman hingga satu tahun penjara.

    Sekitar 85 persen perekonomian Yordania digerakkan oleh sektor UMKM yang mempekerjakan ratusan ribu pekerja. Sekarang ini para pekerja itu tak punya uang pemasukan selama lockdown diberlakukan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.