Eks Presiden Ekuador Divonis 8 Tahun dan Dilarang Berpolitik

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Presiden Ekuador Rafael Correa berbicara selama wawancara dengan Reuters di Brussels, Belgia, 8 Oktober 2019. [REUTERS / Francois Lenoir]

    Mantan Presiden Ekuador Rafael Correa berbicara selama wawancara dengan Reuters di Brussels, Belgia, 8 Oktober 2019. [REUTERS / Francois Lenoir]

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Presiden Ekuador Rafael Correa divonis 8 tahun penjara dan dilarang berpolitik setelah dinyatakan bersalah atas tuduhan korupsi.

    Correa, yang menjabat sejak 2007 hingga 2017, meninggalkan Ekuador tiga tahun lalu dan sekarang tinggal di Belgia. Dia dan 19 orang lainnya, termasuk wakil presidennya yang berada di penjara karena kasus korupsi lain, dituduh menerima suap US$ 7,5 juta (Rp 122 miliar) sebagai imbalan atas kontrak publik untuk membiayai kampanye pemilihan partainya antara 2012 dan 2016.

    Pengadilan juga melarang Correa berpartisipasi dalam politik selama 25 tahun, menurut laporan Reuters, 8 April 2020.

    Jaksa menuduh Correa memimpin kriminal terstruktur dan meminta hukuman maksimum.

    Correa telah membantah, dengan mengatakan tuduhan tersebut adalah serangan politik oleh Presiden Lenin Moreno saat ini, yang awalnya ia dukung pada 2017.

    "Ya, inilah yang mereka cari: menggunakan keadilan untuk mencapai apa yang tidak pernah mereka bisa di kotak suara. Saya baik-baik saja. Saya prihatin dengan rekan-rekan saya," kata Correa di akun Twitter-nya.

    Kuasa hukumnya akan mengajukan banding atas putusan pengadilan.

    Rafael Correa adalah di antara 20 orang, termasuk wakil presidennya, Jorge Glas, dituduh menerima US$ 8 juta (Rp 130 miliar) dalam suap sebagai imbalan untuk kontrak publik dari 2012 dan 2016. Rafael Correa meninggalkan Ekuador tiga tahun lalu.

    Correa, seorang sosialis, adalah presiden Ekuador dari 2007 hingga 2017, masa ketika para pemimpin sayap kiri berkuasa di Amerika Latin, termasuk Hugo Chávez di Venezuela, Evo Morales di Bolivia dan Luiz Inácio Lula da Silva dari Brasil.

    Ketimpangan ekonomi menurun selama masa jabatan Correa, tetapi Ekuador tumbuh terpolarisasi, menurut New York Times. Kharismanya dan investasi yang besar dalam infrastruktur mengangkat popularitasnya, tetapi ia juga dituduh melakukan penyalahgunaan kekuasaan dan menekan pers.

    Selama paruh pertama masa jabatan Correa, Ekuador mengalami ledakan ekonomi, yang ia yakini dengan kebijakan pemerintahnya, tetapi pengkritiknya mengatakan lebih merupakan produk dari kenaikan harga minyak. Ketika harga jatuh, ekonomi kandas.

    Correa digantikan oleh Moreno, wakil presidennya dari 2007 hingga 2013. Beberapa minggu setelah Moreno dilantik, hubungan mereka memburuk.

    Titik puncaknya adalah dakwaan, penangkapan, dan hukuman Glas, seorang loyalis Correa yang juga menjabat sebagai wakil presiden untuk Moreno, atas tuduhan korupsi.

    Vonis atas Correa diketuk ketika Ekuador menghadapi krisis virus Corona dan terburuk di Amerika Latin.

    Virus Corona menekan sistem politik negara serta sumber daya medisnya, karena masyarakat menuntut bantuan. Bahkan, di salah satu kota Ekuador, Guayaquil, begitu banyak orang telah meninggal sehingga mayat-mayat menunggu berjam-jam di jalan untuk diangkut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.