Bangkrut karena Corona, Pengusaha Italia Minta Lockdown Dicabut

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hotel St Regis yang ditutup saat Italia memperketat kebijakan lockdown untuk menahan penyebaran virus corona (COVID-19), di Roma, Italia, Selasa, 24 Maret 2020. Saat ini polisi dikerahkan untuk mengawasi orang-orang yang keluar dari rumahnya. REUTERS/Alberto Lingria

    Hotel St Regis yang ditutup saat Italia memperketat kebijakan lockdown untuk menahan penyebaran virus corona (COVID-19), di Roma, Italia, Selasa, 24 Maret 2020. Saat ini polisi dikerahkan untuk mengawasi orang-orang yang keluar dari rumahnya. REUTERS/Alberto Lingria

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan dan lembaga akademik Italia mendesak pemerintah agar membuka kembali pabrik untuk mencegah bencana ekonomi ketika negara tersebut memberlakukan lockdown nasional untuk mencegah penyebaran virus Corona.

    Italia menghadapi dilema, bukan hanya karena lockdown telah berlangsung lebih lama dari sebagian besar negara dan menderita kematian tertinggi di dunia, tetapi karena virus Corona menghantam keras jantung industri di utara yang menghasilkan sepertiga dari ekonomi Italia.

    "Bagaimana saya bisa membayar upah jika saya tidak menghasilkan uang? Bagaimana saya bisa mempertahankan klien Amerika jika saya tidak dalam posisi untuk menghormati kontrak?" kata Giulia Svegliado, CEO Celenit, produsen panel isolasi industri dengan 50 karyawan di kota utara Padua, dikutip dari Reuters, 8 April 2020.

    Sekitar 150 akademisi Italia telah menerbitkan surat di harian finansial Italia Il Sole-24 Ore, yang dimiliki oleh lobi bisnis Italia Confindustria, mendesak pemerintah untuk membuka blokir ekonomi.

    "Konsekuensi sosial dan ekonomi akan berisiko menghasilkan kerusakan permanen, mungkin lebih serius daripada yang disebabkan oleh virus itu sendiri," kata surat terbuka tersebut.

    Lebih dari dua minggu setelah pemerintah memerintahkan penutupan pabrik-pabrik yang tidak penting, bisnis-bisnis Italia menyerukan agar larangan itu segera dicabut untuk menghindari hilangnya pekerjaan.

    Warga kurang mampu menarik keranjang berisikan makanan hasil sumbangan saat masa lockdown untuk menekan penyebaran virus corona atau Covid-19 di Naples, Italia, 30 Maret 2020. REUTERS/Ciro De Luca

    Italia memberlakukan lockdown secara nasional pada 9 Maret ketika virus telah menewaskan lebih dari 460 orang di Italia. Dua minggu kemudian, Perdana Menteri Giuseppe Conte mengumumkan bahwa bisnis yang tidak penting, termasuk produksi mobil, pakaian dan furnitur, harus ditutup hingga 3 April.

    Korban tewas telah naik tanpa henti dan sekarang berjumlah 16.500 lebih kematian. Pemerintah memperpanjang lockdown minggu lalu hingga 13 April dan secara luas diperkirakan akan memperpanjangnya lagi, untuk tiga minggu ke depan.

    Namun, kenaikan harian terkecil pada kematian COVID-19 selama hampir dua minggu pada hari Sabtu, dan penurunan pertama dalam jumlah pasien dalam perawatan intensif, telah memberi harapan bahwa wabah mungkin telah mencapai puncaknya di Italia.

    Sebagian besar bisnis menghargai perlunya lockdown untuk menjaga kesehatan masyarakat. Lagipula, jika larangan dicabut sebelum penyebaran virus diatasi, orang mungkin takut untuk meninggalkan rumah mereka dan berbinis atau bekerja.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa mendesak negara-negara untuk tidak mencabut pembatasan sebelum waktunya.

    "Salah satu bagian terpenting adalah tidak melepaskan tindakan terlalu dini agar tidak jatuh lagi," kata juru bicara WHO Christian Lindmeier. "Ini mirip dengan Anda sakit dam bangun terlalu pagi, kemudian berlari terlalu awal hingga berisiko jatuh kembali dan mengalami komplikasi."

    Yang mengkhawatirkan banyak orang di Italia, dan di tempat lain, adalah kurangnya rencana otoritatif tentang bagaimana cara aman mengambil langkah-langkah, karena pemerintah bergulat dengan musuh yang tak terduga, tak terlihat dan tidak dikenal.

    Perusahaan-perusahaan di ekonomi terbesar ketiga zona euro mendorong pemerintah untuk membuat strategi untuk keluar secara bertahap dari lockdown.

    "Saya berharap pemerintah menetapkan aturan ketat tentang keamanan dan kemudian memberi kita kemungkinan untuk kembali bekerja," kata Stefano Ruaro, pendiri Sertech Elettronica, produsen komponen elektro-mekanis, elektronik, dan perangkat lunak di Vicenza.

    Gereja Saint Peter's Basilica terlihat saat Italia memperketat kebijakan lockdown untuk menahan penyebaran virus corona (COVID-19), di Roma, Italia, Selasa, 24 Maret 2020. Angka kematian di Italia bahkan lebih dari dua kali lipat dari Cina, negara pertama yang melaporkan kasus virus corona. REUTERS/Alberto Lingria

    Sejauh ini, para pejabat mengatakan bahwa pembatasan kerja mungkin akan dicabut berdasarkan sektor per sektor daripada basis geografis. Jarak sosial, penggunaan perangkat perlindungan pribadi yang lebih luas seperti masker wajah dan sistem kesehatan lokal yang diperkuat juga telah dibicarakan.

    Vicenza dan Padua adalah bagian dari Veneto, salah satu daerah yang paling parah terkena dampak Italia bersama dengan Lombardy dan Emilia Romagna. Tingginya kepadatan pabrik dan ikatan ekonomi yang kuat dengan Cina telah dikemukakan sebagai kemungkinan alasan di balik epidemi di sana.

    "Kami mengatakan ini dengan sangat keras kepada pihak berwenang: 'Cepatlah'," kata Cesare Mastroianni, wakil presiden Absolute, produsen kapal pesiar mewah Piacenza, Emilia Romagna. "Lockdown telah menyebabkan kerusakan yang tak terhitung."

    Serikat pekerja telah mengancam akan melakukan pemogokan kecuali jika pemerintah menurunkan kegiatan-kegiatan non-inti.

    Dengan produk domestik bruto Italia diperkirakan turun 6% tahun ini menurut perkiraan Confindustria, utang publik melonjak menuju 150% dari PDB dan ribuan orang yang meminta skema dukungan pendapatan yang didukung negara, Perdana Menteri Conte ditekan untuk membuka rincian cetak biru untuk pemulihan ekonomi pasca virus Corona.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.