Abu Sayyaf Diyakini Butuh Sandera Baru

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Manila:Empat warga Indonesia yang diculik kelompok bersenjata di perairan Filipina Selatan merupakan awak kapal Labroy 179, berbeda Singapura, milik pengusaha negara tersabut. “Kapal itu dibuat di Indonesia, tapi agennya ada di Singapura,” jelas Oktaviono, Staf Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia di Manila, ketika dihubungi Tempo News Room, Selasa (18/6) malam. Kapal itu terdiri dua buah. Para korban itu berada di kapal penarik, sedang semua penumpang di kapal kargo selamat beserta seluruh barang muatan berupa batubara. “Keenam awak kapal kargo tidak cidera sedikit pun. Selamat semua,” jelasnya. Kerusakan pun tidak seberapa. Hanya seperangkat radio VHF, peralatan handy talky (HT) dan devider yang diambil para penculik. Keenam awak tersebut tidak ada yang mengerti navigasi. Oleh karena itu setelah kehilangan kaptennya, mereka mengontak agen mereka yanga di Pulau Cebu. “Agen itu yang kemudian melaporkan kepada aparat Philipina Coast Guard,” ujarnya. Oktav belum bisa memastikan dugaan keterlibatan Abu Sayyaf. Tapi, ia memberi penjelasan, kecurigaan aparat keamanan Filipina itu tidak saja terkait lokasi penculikan yang selama ini dikenal dikuasai Abu Sayyaf, melainkan juga diyakini berkaitan lepasnya sandera mereka tempo, yang diantaranya warga Amerika Serikat. “Lalu orang menduga, mereka membutuhkan sandera baru untuk tameng dari serangan angkatan bersenjata Philipina. Tapi banyak juga yang menyatakan mereka salah culik, karena yang diambil sesama muslim,” jelas Oktaviono. Diplomat ini juga menyatakan tidak tertutup kemungkinan pelaku penculikan adalah kelompok keras lain seperti MALF atau MNLF di kawasan Moro. Keempat nelayan yang diculik tersebut adalah kapten kapal Muntu Yakobus Winowatan asal Samarinda, Julkifli asal Batam, Piter Lerich yang beralamat di Tanjung Priok, dan Ferdinand Zoel yang alamatnya belum diketahui. (Y. Tomi Aryanto)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.