Menkes Inggris Minta Gaji Pemain EPL Dipotong untuk Lawan Corona

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock berbicara pada konferensi pers digital COVID-19 di 10 Downing Street di London, Inggris 2 April 2020. [Pippa Fowles / 10 Downing Street / Handout via REUTERS]

    Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock berbicara pada konferensi pers digital COVID-19 di 10 Downing Street di London, Inggris 2 April 2020. [Pippa Fowles / 10 Downing Street / Handout via REUTERS]

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock mengatakan gaji pesepak bola Liga Premier Inggris harus dipotong untuk membantu Inggris melawan virus Corona.

    "Saya pikir semua orang perlu memainkan peran mereka dalam upaya nasional ini dan itu juga berarti para pemain Liga Premier," kata Hancock pada Kamis ketika ditanya apakah adil jika beberapa pemain bintang menerima bayaran penuh ketika laga ditunda dan staf dirumahkan, dikutip dari Reuters, 3 April 2020.

    Menurut Hancock, banyak pengorbanan yang dilakukan oleh warga Inggris terutama mereka yang bekerja di NHS (layanan kesehatan Inggris).

    "Saya pikir hal pertama yang pemain Liga Premier dapat lakukan adalah memberikan kontribusi, memotong gaji dan memainkan peran mereka," katanya.

    Pelatih dan mantan pesepak bola Inggris Gary Neville mengecam pernyataan Matt Hancock di Twitter karena menyarankan para pemain Liga Premier harus memotong gaji mereka, padahal para pemain sedang berusaha melakukan donasi untuk membantu krisis.

    Sementara Neville juga mengkritik kurangnya pengujian virus untuk staf NHS.

    "Saya berharap saya adalah pemain selama 10 menit lagi. Pemain PL kemungkinan besar sedang mengupayakan proposal untuk membantu klub, komunitas dan NHS. Butuh waktu lebih dari 2 minggu untuk disatukan," tweet Neville dikutip dari Daily Mail.

    "Matt Hancock meminta mereka (dipotong gajinya) ketika dia tidak bisa mendapatkan tes untuk staf NHS adalah seorang f@@@@@g cheek!" lanjut Neville.

    Professional Footballers Association (PFA) menolak melakukan pemotongan gaji pada hari Kamis karena gaji Liga Premier. Dalam sebuah pernyataan, organisasi bersikeras bahwa tidak akan ada pemotongan gaji bagi para pemain untuk mengurangi tekanan keuangan. "Jika klub mampu membayar pemain dan staf mereka, mereka harus melakukannya," kata pernyataan asosiasi.

    Hancock hanyalah satu dari sejumlah orang yang meminta para pemain sepak bola untuk mengambil pemotongan gaji, terutama dengan beberapa klub seperti Tottenham dan Newcastle mengambil keuntungan dari skema retensi pekerjaan pemerintah untuk mengurangi staf yang tidak bermain dengan mengorbankan pembayar pajak, sementara para pemain masih mendapat gaji besar.

    Sebelum pernyataan Hancock pada Kamis, ketua komite pemilihan Departemen Kebudayaan, Media dan Olahraga, Julian Knight, meminta pemerintah untuk mengenakan pajak tak terduga pada klub-klub yang menolak memotong gaji pemain.

    PFA menuduh klub yang telah merumahkan staf hanya untuk melindungi kekayaan pemegang saham mereka.

    "Para pemain yang kami ajak bicara mengakui bahwa staf yang tidak bermain adalah bagian penting dari klub mereka dan mereka tidak ingin melihat staf klub cuti dengan tidak adil," tulis pernyataan PFA.

    Meski asosiasi menolak memotong upah pemain, ada rencana pribadi dari pemain sepak bola Inggris untuk membantu menangani krisis.

    Sumber mengklaim bahwa sekelompok pesepak bola papan atas sedang mendiskusikan rencana tertutup untuk membuat sumbangan pribadi mereka sendiri demi membantu dalam perang melawan virus Corona.

    Sampai sekarang, belum ada pemain Liga Premier yang menerima pemotongan gaji. Namun, manajer Bournemouth Eddie Howe menjadi bos papan atas sepak bola pertama yang melakukan pemotongan gaji dalam upaya untuk membantu penanganan virus Corona pada Rabu, disusul Graham Brighton dari Brighton pada Kamis.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.