Tidak Patuhi Lockdown, Presiden Duterte Perintahkan Tembak Mati

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan warga berebut membeli masker di toko peralatan medis sehari setelah pemerintah Filipina mengkonfirmasi kasus virus corona pertama, di Manila, Filipina, 31 Januari 2020. REUTERS / Eloisa Lopez

    Puluhan warga berebut membeli masker di toko peralatan medis sehari setelah pemerintah Filipina mengkonfirmasi kasus virus corona pertama, di Manila, Filipina, 31 Januari 2020. REUTERS / Eloisa Lopez

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Rodrigo Duterte memerintahkan aparat polisi dan tentara menembak mati siapa saja yang melanggar peraturan lockdown untuk mencegah penularan virus Corona di Filipina.

    Presiden Duterte menegaskan tembak mati diberlakukan jika seseorang yang melanggar aturan lockdown mengancam nyawa aparat polisi dan tentara Filipina.

    "Perintah saya kepada polisi dan militer, jika ada masalah dan ada peristiwa mereka melawan balik dan jiwa anda dalam bahaya, tembak mati mereka," kata presiden Duterte melalui televisi kemarin malam sebagaimana dilaporkan Reuters, 2 April 2020.

    "Paham? Mati. Menyebabkan masalah, saya akan kubur anda."

    Presiden Duterte mengatakan adalah penting semua orang bekerja sama dan mematuhi karantina di rumah saat aparat berupaya mengatasi penularan dengan sistem kesehatan yang rapuh agar tidak kewalahan.

    "Ini semakin memburuk. Sekali lagi saya katakan kepada anda mengenai keseriusan masalah ini dan anad harus mendengarkan," kata Duterte.

    Kasus virus Corona di Filipina sudah berjumlah 2.311 kasus dan 96 orang dilaporkan meninggal.

    Pernyataan keras presiden Duterte dipicu laporan media mengenai keributan dan penangkapan sejumlah orang kemarin di kawasan miskin di Manila yang memprotes bantuan pangan pemerintah.

    Sebelumnya komunitas medis marah dipicu stigma sosial dan pekerja rumah sakit yanng menderita pelecehan fisik dan diskriminasi saat menangani pasien virus Corona.

    Presiden Duterte menegaskan pelecehan terhadap pekerja medis merupakan kejahatan serius dan tidak akan ditoleransi.

    Menanggapi pernyataan keras presiden Duterte soal lockdown, Kepala kepolisian Filipina mengatakan polisi memahami keseriusan Presiden Duterte, namun tidak akan ada yang ditembak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.