Netanyahu Wajibkan Warga Israel Pakai Masker di Depan Umum

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberi isyarat saat ia menyampaikan pernyataan selama kunjungannya di hotline nasional Kementerian Kesehatan, di Kiryat Malachi, Israel 1 Maret 2020. [REUTERS / Amir Cohen]

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberi isyarat saat ia menyampaikan pernyataan selama kunjungannya di hotline nasional Kementerian Kesehatan, di Kiryat Malachi, Israel 1 Maret 2020. [REUTERS / Amir Cohen]

    TEMPO.CO, Jakarta - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu meminta semua warga Israel mengenakan masker saat berada di depan umum sebagai tindakan pencegahan terhadap virus Corona.

    "Kami meminta Anda, warga Israel, Anda semua, untuk mengenakan masker di ruang publik," kata Netanyahu dalam pidato di televisi pada Rabu, dikutip dari Reuters, 2 April 2020. Netanyahu mengatakan orang-orang dapat berimprovisasi dengan syal atau penutup wajah lainnya jika tidak mendapat masker.

    Imbauan Netanyahu kontras dengan rekomendasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia dan Pusat Pengendalian Penyakit AS (CDC), yang mengatakan masker wajah harus dipakai hanya oleh petugas kesehatan, mereka yang sakit, dan mereka yang merawat seseorang yang sakit karena COVID-19, menurut laporan CNN.

    Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga mengatakan pada Rabu meminta agar hari libur Yahudi, Muslim, dan Kristen yang akan datang harus dirayakan hanya dengan keluarga dekat.

    Dalam pidato yang disiarkan televisi, Netanyahu juga mengumumkan pembatasan aktivitas di sekitar kota Yahudi ultra-Ortodoks yang telah mengalami penyebaran virus Corona masif.

    Israel telah mengambil langkah tegas untuk menghentikan penyebaran virus, setelah mencatat lebih dari 6.000 kasus. Setidaknya 25 warga Israel telah meninggal karena COVID-19, menurut data Kementerian Kesehatan.

    Seorang pria memakai masker saat dia berjalan di pasar di Ashkelon ketika Israel memperketat kebijakan tinggal di rumah menyusul penyebaran penyakit virus Corona (COVID-19) di Ashkelon, Israel 20 Maret 2020.[AMIR COHEN / REUTERS]

    Pembatasan yang semakin ketat sebagian besar telah membatasi warga Israel di rumah mereka, memaksa bisnis tutup, dan menyebabkan pengangguran meroket menjadi 24,4%.

    Pada hari Senin, Netanyahu dan Menteri Keuangan Moshe Kahlon mengatakan Israel akan membelanjakan 80 miliar shekel (Rp 370 triliun) untuk membantu perekonomian mengatasi krisis dan memperkirakan pengembalian kegiatan bisnis secara bertahap setelah liburan Paskah dari 8-15 April.

    Netanyahu pada hari Rabu mengatakan pemerintah akan memberikan keluarga Israel 500 shekel (Rp 2,3 juta) per anak, hingga maksimal empat anak. Orang tua itu juga akan menerima 500 shekel, kata Netanyahu, menyebut semua pembayaran sebagai "hadiah Paskah".

    Bantuan langsung tunai itu akan membuat negara menghabiskan total 1,5 miliar shekel atau Rp 7 trilun, menurut laporan televisi Kan.

    Netanyahu juga mengatakan mayoritas Yahudi Israel harus merayakan Paskah hanya dengan keluarga inti, menambahkan bahwa merayakan hari libur bersama kerabat lanjut usia akan berisiko.

    Pembatasan yang sama berlaku untuk Muslim dan Kristen, kata Netanyahu, yang merupakan mayoritas dari 21% minoritas Arab Israel dan akan menandai Paskah dan awal Ramadan akhir bulan ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...