Langkah Kreatif Industri Fashion di AS dan Eropa Atasi Corona

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Armada Uber Eats di Kota New York. Menurut Uber program Uber Etas jauh sebelum virus corona mewabah tumbuh 45 persen. Layanan ini digratiskan semala wabah virus corona menyerang Amerika Serikat dan Kanada. Foto: @ubereats

    Armada Uber Eats di Kota New York. Menurut Uber program Uber Etas jauh sebelum virus corona mewabah tumbuh 45 persen. Layanan ini digratiskan semala wabah virus corona menyerang Amerika Serikat dan Kanada. Foto: @ubereats

    TEMPO.CO, Jakarta - Industri fashion terkenal dunia berhenti beroperasi demi memutus rantai penularan virus Corona dan mengalihkan kegiatannya dengan memproduksi masker dan perlengkapan kesehatan di Amerika Serikat dan Eropa.

    Kegiatan itu dilakukan oleh para pekerja industri fashion dan tekstil  dari rumah mereka karena mereka dilarang ke luar rumah untuk mencegah penularan virus Corona.

    CNN melaporkan, pejabat kesehatan AS sudah memperingatkan tentang persediaan peralatan kesehatan yang mungkin tidak memadai meskipun produsen meningkatkan produksi, membuat beberapa pekerja medis terpaksa menggunakan kembali masker bekas pakai untuk pasien.Bahkan mereka membuat sendiri masker untuk digunakan.

    Pernyataan Gubernur New York Andrew Cuomo via Twitter menjadi pemicu perusahaan-perusahaan fashion ternama dunia di AS untuk mengalihkan produksinya menjadi membuat masker dan perlengkapan medis lainnya.

    "Kami membutuhkan perusahaan-perusahaan menjadi kreatif untuk memasok perlengkapan penting yang dibutuhkan petugas kesehatan kami," cuit Cuomo memohon bantuan karena wilayahnya paling parah terjangkit virus Corona di AS.

    Disainer terkenal Christian Siriano merespons cuitan Cuomo.

    "Jika @NYGovCuomo mengatakan kami membutuhkan masker tim saya akan membantu membuatkannya. Saya punya tim lengkap bekerja dari rumah yang dapat membantu," cuit Siriano.

    Beberapa hari kemudian, Siriano membuktikan ucapannya dengan menayangkan video masker hasil produksi tim penjahitnya.

    Hal serupa dilakukan disainer keturunan Nepal-Amerika, Prabal Gurung yang berkantor di New York.
    Tawaran bantuan membuat masker juga disampaikan disainer Brandon Maxwell yang pelanggan utamanya Lady Gaga hingga Michelle Obama.

    Tak ketinggalan mereka pakaian renang mewah Karla Colletto telah menyediakan pabriknya di Virginia. Los Angeles Apparel (merek yang oleh Dov Charney pemilik American Apparel) menyumbangkan jasa 450an tenaga kerjanya untuk memproduksi masker wajah.

    Tidak hanya di AS, perusahaan-perusahaan fashion dan disainer di Eropa juga melakukan hal serupa. Mereka membantu memproduksi masker wajah dan peralatan kesehatan lainnya untuk mengatasi penularan virus Corona.

    Gucci misalnya, mendonasikan 1.1 juta masker dan 55 ribu perlengkapan medis ke aparat untuk Italia yang paling menderita akibat serangan virus Corona di Eropa.

    Pemilik merek Louis Vuitton dan Christian Dior misalnya, memanfaatkan rantai pasokan globalnya untuk mendapatkan 40 juta masker wajah dari Cina dalam 4 minggu ke depan. Perusahaan multinasional itu akan membiayai pengiriman di minggu pertama senilai lima juta euro.

    Perusahaan tekstil Miroglio Group yang memasok tekstil untuk industri garmen, memberikan bantuan tahap pertamanya berupa 10 ribu kapas yang dapat dicuci secara higienis dan masker untuk pekerja lapangan, LSM dan jurnalis di Italia.

    "Kami utamakan untuk lansia dan mereka yang bekerja dalam situasi krisis-- polisi dan petugas kesehatan," kata CEO perusahaan tekstil itu, Alberto Racca.

    Tahap selanjutnya, perusahaan ini akan memberikan 600 ribu kapas dapat dicuci dan masker pekan depan.

    Perusahaan-perusahaan produsen parfum atau minyak wangi juga mengubah bisnis mereka menjadi penyedia cairan pencuci tangan ataun hand sanitizer untuk melumpuhkan virus Corona.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.