Sebelum Wabah Virus Corona Meledak, AS Pecat Ahli Epidemi di Cina

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Donald Trump menyampaikan pengarahan singkat tentang virus Corona di Gedung Putih di Washington, AS, 17 Maret 2020. [REUTERS / Jonathan Ernst]

    Presiden AS Donald Trump menyampaikan pengarahan singkat tentang virus Corona di Gedung Putih di Washington, AS, 17 Maret 2020. [REUTERS / Jonathan Ernst]

    TEMPO.CO, Jakarta - Amerika memiliki kesempatan untuk merespon virus Corona (COVID-19) lebih awal, bahkan sejak 2019. Namun, kesempatan itu lepas dari tangan. Penyebabnya, gara-gara pemerintah Amerika memecat ahli epideminya di Cina, Dr. Linda Quick.

    Hal itu terungkap dari laporan eksklusif kantor berita Reuters hari ini, Senin, 23 Maret 2020. Dalam laporannya, disampaikan bahwa Amerika memecat Quick sejak Juli lalu. Dan, sejak saat itu, Amerika tidak pernah menempatkan figur lain yang memiliki pemahaman lapangan setara dengannya

    "Melihat situasi sekarang sungguh menyakitkan. Andai saja ada orang di sana, mungkin petugas medis dan pemerintah di seluruh dunia bisa begerak lebih cepat," ujar ahli epidemi Amerika yang pernah bertugas di Cina dan mengenal Quick, Bao-Ping Zhu, sebagaimana dikutip dari Reuters.

    Reuters menyebut Quick sebagai ahli epidemi yang bekerja untuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, CDC. Sebelum dipecat, ia memegang peran integral dalam mengidentifikasi virus atau penyakit yang berpotensi menjadi epidemi seperti virus Corona saat ini. Zhu menyebut Quick sebagai penasihat, mata dan telinga medis Amerika di Cina.

    Sebelum dipecat, kata Zhu, Quick sendiri sudah berniat mundur. Hal itu dikarenakan pemerintah Amerika menghapus pos anggarannya per September 2019. Padahal, anggaran itu ia perlukan untuk beroperasi sekaligus menjalankan program pelatihan epidemiologis Amerika di Cina. Diduga penghentian anggaran itu berkaitan dengan memanasnya hubungan Amerika dan Cina tahun lalu.

    "Andai Quick berada di sana, ia bisa memberikan perkembangan terbaru (soal potensi virus Corona) ke Amerika secara langsung sehingga otoritas kesehatan bisa bertindak sejak pekan pertama wabah meledak," ujar Zhu. Untuk mengingatkan kembali, Cina sempat mencoba menutup-nutupi wabah virus Corona ketika meledak pertama kali di bulan November 2019. 

    Presiden Amerika Donald Trump membantah laporan Reuters. Ia menyebutnya sebagai laporan yang 100 persen bohong. Meski begitu, Trump tidak menjawab apakah dirinya akan menunjuk figur baru untuk mengisi posisi Quick yang kosong.

    Sementara itu, secara terpisah, Direktur CDC Robert Redfield mengatakan bahwa CDC tidak hilang dari Cina. Dengan adanya virus Corona (COVID-19), kata ia, peran CDC justru ditambah di sana. "Saat ini sedang kami tingkatkan (peranan CDC)," ujar Redfield.

    Sebelum Redfield memberikan statementnya kepada Reuters, CDC sempat membantah membiarkan pos Cina kosong pasca Quick tak ada. "Hilangnya posisi penasihat (Quick) di Cina tidak mengurangi kemampuan pemerintah pusat untuk mendapatkan informasi terbaru. Hal itu tak ada kaitannya dengan CDC bisa mengetahui kasus lebih awal atau tidak," ujar keterangan pers CDC.

    ISTMAN MP | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.