Antisipasi Virus Corona, Nepal Tutup Pendakian Gunung Everest

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana di Everest Base Camp, Nepal. Pendakian ke Puncak Everest dari sisi Nepal, bermula dari Everest Base Camp (EBC), di ketinggian 5.364 meter. Untuk mencapai EBC, pengunjung harus melalui penerbangan domestik dari Kathmandu ke Lukla. Foto: Robertus Robet

    Suasana di Everest Base Camp, Nepal. Pendakian ke Puncak Everest dari sisi Nepal, bermula dari Everest Base Camp (EBC), di ketinggian 5.364 meter. Untuk mencapai EBC, pengunjung harus melalui penerbangan domestik dari Kathmandu ke Lukla. Foto: Robertus Robet

    TEMPO.CO, Jakarta - Nepal telah menutup semua puncak Himalaya termasuk Gunung Everest pada musim pendakian ini karena kekhawatiran wabah virus Corona atau COVID-19.

    Menteri Pariwisata Yogesh Bhattarai mengatakan ekspedisi ke semua puncak pada musim semi Maret-Mei telah ditangguhkan.

    "Pendakian musim ini telah ditutup," kata Bhattarai, dikutip dari Reuters, 13 Maret 2020.

    "Ini sebagai tindakan pencegahan untuk COVID-19," katanya.

    Nepal, rumah bagi delapan dari 14 gunung tertinggi di dunia termasuk Gunung Everest, memperoleh pendapatan sebesar US$ 5 juta (Rp 73,5 miliar) dari biaya izin pendakian puncak tertinggi dunia dan gunung-gunung lainnya setiap tahun, menurut ABC News. Sementara pariwisata membawa US$ 1 miliar atau Rp 14,7 triliun untuk perekonomian Nepal setiap tahun.

    Nepal telah mengkonfirmasi hanya satu kasus virus Corona, yakni seorang mahasiswa yang belajar di Cina dalam perjalanan pulang di antara 450 orang yang dites.

    Penangguhan ekspedisi di Nepal akan memengaruhi ratusan pendaki asing yang kini bersiap untuk pendakian musim semi yang dimulai pada Juni.

    Everest, gunung tertinggi di dunia pada 8.850 meter, berada di perbatasan antara Nepal dan wilayah Cina di Tibet. Cina mengumumkan penutupan sisi gunung pada hari Kamis.

    Seorang pemandu trekking memandu pendaki gunung melewati Lembah Khumbu di wilayah Everest, Nepal, 9 April 2016 REUTERS/Antoni Slodkowski

    Ini adalah kedua kalinya dalam beberapa tahun terakhir bahwa musim pendakian telah terganggu. Ekspedisi dihentikan pada tahun 2015 setelah gempa besar melanda Nepal pada 25 April 2015, yang menewaskan sekitar 9.000 orang.

    Delapan belas orang tewas di base camp Everest ketika longsoran salju yang dipicu oleh gempa mengalir di lereng.

    "Ini adalah berita yang mengecewakan bagi para pemimpin ekspedisi kami dan klien kami yang telah berlatih selama berbulan-bulan untuk pendakian tahun ini," kata Lukas Furtenbach, dari perusahaan pemandu yang berpusat di California, Furtenbach Adventure.

    Adrian Ballinger dari perusahaan Ekspedisi Alpenglow mengatakan dia memaklumi keputusan itu.

    "Meskipun membatalkan pendakian tidak pernah menjadi keputusan yang kita inginkan, kali ini, putusan itu adalah hal yang bertanggung jawab untuk dilakukan," kata Ballinger.

    "Wabah COVID-19 di base camp akan berbahaya dan berpotensi menghancurkan," katanya.

    Nepal juga akan berhenti mengeluarkan visa pada saat kedatangan hingga 30 April, kata seorang pejabat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Tanda Masker Medis yang Asli atau Palsu

    Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, masker adalah salah satu benda yang wajib kita pakai kemanapun kita beraktivitas. Kenali masker medis asli.