Pemimpin Redaksi Sputnik Ditahan Singkat oleh Turki

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penahanan. Sumber: aa.com.tr

    Ilustrasi penahanan. Sumber: aa.com.tr

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Turki pada Minggu, 1 Maret 2020, menahan Pemimpin Redaksi Sputnik untuk wilayah Turki, Mahir Boztepe di Kota Istanbul. Tiga staf media asal Rusia itu juga ikut ditahan sebagai bagian dari investigasi yang dipimpin tim jaksa penuntut umum di Ankara.

    Situs aa.com.tr mewartakan investigasi ini berpegang pada aturan tentang menghina bangsa, negara dan institusi negara di Turki serta mengganggu persatuan dan solidaritas negara.

    Boztepe dan para stafnya yang ditahan, segera dibebaskan setelah interograsi dilakukan, yang juga mencakup penggeledahan di kantor berita itu di Kota Istanbul, Turki.

    Ilustrasi logo Sputnik. Sumber: Nina Zotina/rt.com

    Sebelumnya media Sputnik Turki mempublikasikan sebuah pemberitaan penuh kontroversi berjudul ‘provinsi yang dicuri : Mengapa Turki diberi sudut Suriah oleh Prancis 80 tahun silam’. Pemberitaan ini tentang Kota Hatay di wilayah tenggara Turki yang direklamasi dari Prancis dalam perang kemerdekaan.

    Sebagai bagian dari Pakta Nasional, Hatay berdiri di luar batas Turki setelah penandatanganan Kesepakatan Ankara dengan Prancis pada 1921. Pada 1936 Prancis menyerahkan hak-hak Hatay ke Pemerintah Suriah. Sedangkan Turki menyerukan agar Hatay menjadi sebuah wilayah merdeka. 

    Turki lalu membangun sebuah fasilitas militer di perbatasan Hatay pada 1938 dan seorang gubernur ditunjuk untuk menjadi pemimpin di kawasan itu. Sekitar 5 ribu tentara Turki lalu memasuki Kota Hatay. 

    Pada 1939, Prancis menarik pasukan dari Kawasan. Hatay menjadi bagian wilayah Turki setelah Dewan Nasional Hatay pada 23 Juni 1939 memutuskannya dengan suara bulat. Resolusi ini didorong oleh Prancis.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.