Virus Corona di Penjara Cina, 512 Tahanan dan Sipir Terinfeksi

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja medis terlihat di unit perawatan intensif (ICU) rumah sakit Jinyintan di Wuhan, pusat wabah virus corona Covid-19, di provinsi Hubei, Cina 13 Februari 2020. Sebanyak 1.921 pasien meninggal di provinsi ini. China Daily via REUTERS

    Seorang pekerja medis terlihat di unit perawatan intensif (ICU) rumah sakit Jinyintan di Wuhan, pusat wabah virus corona Covid-19, di provinsi Hubei, Cina 13 Februari 2020. Sebanyak 1.921 pasien meninggal di provinsi ini. China Daily via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Cina melaporkan 512 tahanan dan sipir di empat penjara dari tiga provinsi terinfeksi virus Corona.

    Dua dari penjara itu berada di Provinsi Hubei, tempat wabah itu berasal. Penjara perempuan Wuhan melaporkan 230 kasus yang dikonfirmasi, sementara 41 tahanan dinyatakan positif di Penjara Hanjin di Kabupaten Shayang, di barat, menurut sebuah pernyataan di situs web pemerintah provinsi, dikutip dari New York Times, 22 Februari 2020.

    Di Provinsi Shandong, para pejabat mengatakan 207 kasus telah muncul di sebuah penjara di kota Jining, 724 km di sebelah timur Wuhan. Wabah itu mendorong pihak berwenang setempat untuk memberhentikan direktur dan sekretaris partai dari departemen keadilan provinsi, yang mengawasi penjara di sana, bersama dengan tujuh pejabat lainnya.

    Kasus-kasus di sana mungkin telah menyebar dari seorang sipir penjara yang menderita batuk pada 12 Februari dan dinyatakan positif virus pada hari berikutnya, menurut sebuah pernyataan oleh pemerintah provinsi.

    Penjaga kedua juga ditemukan terinfeksi virus pada hari itu, mendorong otoritas penjara untuk mulai menyaring seluruh populasi penjara.

    Secara keseluruhan, 2.077 narapidana dan pekerja penjara diuji di Shandong, dengan 200 tahanan dan tujuh penjaga dinyatakan positif terkena virus Corona. Tidak ada kematian yang dilaporkan.

    Sebuah mobil melaju di sepanjang jalan utama yang biasanya ramai saat negara itu dilanda wabah virus corona baru, di Shanghai, Cina, 30 Januari 2020. Hingga tanggal 10 Februari, jumlah korban tewas virus corona mencapai 900 orang, melebihi korban penyakit SARS pada 2003. REUTERS/Aly Song

    Pemerintah Shandong sedang melakukan inspeksi di penjara-penjara dan pusat-pusat medis lain tempat para tahanan dirawat karena penyakit, termasuk kecanduan narkoba dan alkohol. Pemerintah juga berencana untuk segera mendirikan rumah sakit untuk merawat mereka yang terinfeksi.

    Wabah serupa di Provinsi Zhejiang memicu pemberhentian sipir dan sekretaris partai di sebuah penjara di kota Quzhou. Fasilitas itu melaporkan 27 infeksi baru pada hari Jumat, menurut sebuah laporan di China Daily, menjadikan jumlah tahanan yang terinfeksi di sana menjadi 34. Seorang sipir juga diyakini menjadi sumber infeksi tersebut.

    Pemerintah pusat Cina telah mengerahkan tim dari badan penegak hukum top Cina untuk menyelidiki bagaimana wabah virus Corona menyebar di sistem penjara.

    "Dengan hati yang berat dan rasa tanggung jawab, saya melaporkan kepada Anda bahwa pada 20 Februari, lima penjara di Hubei, Shandong dan Zhejiang telah melaporkan infeksi di antara populasi mereka," He Ping, kepala Biro Administrasi Penjara Kementerian Kehakiman, dikutip dari South China Morning Post.

    Kantor berita negara Xinhua melaporkan bahwa Lei Dongsheng, wakil sekretaris jenderal Komisi Politik dan Hukum Pusat, badan penegak hukum top Cina, akan memimpin tim tingkat tinggi untuk menyelidiki wabah di Penjara Rencheng. Tim ini akan mencakup pejabat dari Kejaksaan Agung Rakyat, Kementerian Keamanan Publik dan Kementerian Kehakiman.

    Dia berjanji semua upaya untuk mengkarantina kasus-kasus yang dicurigai dan memastikan perawatan rumah sakit untuk tahanan yang dikonfirmasi dengan virus Corona.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.