Amerika dan Taliban Mulai Lakukan Tahapan Gencatan Senjata

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat komersial misterius jatuh dan terbakar, menewaskan 15 orang di wilayah Taliban, Afganistan. [MIRROR]

    Pesawat komersial misterius jatuh dan terbakar, menewaskan 15 orang di wilayah Taliban, Afganistan. [MIRROR]

    TEMPO.CO, Jakarta - Gencatan senjata antara Amerika dan kelompok pemberontak Taliban akhirnya akan berlangsung. Menurut juru bicara Afghanistan National Security Advisor, gencatan senjata tersebut akan dimulai dengan pengurangan aktivitas kekerasan antara Taliban, Amerika, dan Afghanistan.

    "Pengurangan kegiatan kekerasan (reduction violence) akan berlangsung selama sepekan," ujar juru bicara Afghan National Security Advisor sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters, Jumat, 21 Februari 2020.

    Pengurangan aktivitas kekerasan itu akan dimulai pada pukul 12 malam nanti waktu Afghanistan. Dan, mulai saat itu, maka Afghanistan, Amerika, maupun Taliban harus menahan diri untuk tidak melakukan serangan apapun selama sepekan.

    Apabila pengurangan kekerasan itu berhasil, hal itu bisa berkembang ke gencatan senjata total. Kepala Deputi Taliban, Sirajuddin Haqqani, optimistis kondisi itu bisa terwujud karena ia sendiri mengaku sudah lelah dengan perang berkepanjangan.

    "Perang berkepanjangan tersebut sudah merengut banyak hal. Semua sudah lelah dengan perang tersebut," ujar Haqqani sebagaimana dikutip dari New York Times.

    Haqqani menambahkan bahwa untuk bisa mencapai gencatan senjata total, yang harus tercapai dahulu antara Amerika, Taliban, dan Afghanistan adalah rasa saling percaya dan saling mengawasi satu sama lain. Tanpa hal tersebut, ia tidak yakin damai akan benar-benar terwujud.

    "Hanya dengan kondisi itu kita bisa membangun pondasi kooperasi atau kerjasama di masa depan," ujar Haqqani yang belum lama ini dituduh bekerjasama dengan agensi intelijen Pakistan.

    Upaya damai Amerika Taliban tercapai pekan lalu dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan Amerika, Mark Esper, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, dan negosiator Taliban. Dalam pertemuan itu, kelompok Taliban dikabarkan setuju untuk untuk tidak menyerang pusat-pusat populasi dan lembaga pemerintah selama permintaan mereka dipenuhi.

    Salah satu permintaan mereka adalah diperbolehkan menyerang pasukan Amerika jika mereka ketahuan melanggar periode gencatan senjata. Selain itu, Taliban juga meminta hak untuk menyerang apabila Amerika ketahuan masih memasok bantuan ke daerah yang tidak terjangkau mereka.

    ISTMAN MP | REUTERS | NEW YORK TIMES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.