Julian Assange WikiLeaks Klaim Ditawarkan Grasi Oleh Trump

Reporter:
Editor:

Istman Musaharun Pramadiba

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Julian Assange mengacungkan jempolnya kepada pewarta foto saat tiba di Pengadilan Magistrasi Westminster, setelah ia ditangkap di London, Inggris, Kamis, 11 April 2019. Julian Assange adalah sosok yang paling dicari oleh pemerintah Amerika Serikat. REUTERS/Hannah McKay

    Julian Assange mengacungkan jempolnya kepada pewarta foto saat tiba di Pengadilan Magistrasi Westminster, setelah ia ditangkap di London, Inggris, Kamis, 11 April 2019. Julian Assange adalah sosok yang paling dicari oleh pemerintah Amerika Serikat. REUTERS/Hannah McKay

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendiri situs whistleblower WikiLeaks, Julian Assange, mengklaim mendapat tawaran grasi atau pengampunan dari Presiden Amerika Donald Trump. Namun, ada hal yang harus ia lakukan terlebih dahulu untuk bisa mendapat grasi tersebut.

    "Sebagai gantinya, ia harus membantah tuduhan keterlibatan Rusia dalam insiden bocornya email Democratic National Committee atau Dewan Nasional Demokrat," ujar pengacara Edward Fitzgerald, dalam proses persidangan Assange sebagaimana dikutip dari CNN, Kamis, 20 Februari 2020

    Klaim grasi Assange tersebut hadir tak lama setelah Trump mengobral grasi kepada 11 terpidana. Mulai dari pengemplang pajak hingga koruptor, semua mendapat grasi atau pengampunan dari Trump pada hari Rabu kemarin, 19 Februari 2020. Trump mengatakan bahwa ada banyak orang yang diperlakukan tidak adil dan berhak mendapat pengampunan.

    Assange sendiri terjerat 18 perkara yang sebagian besar berkaitan dengan aksinya membocorokan dokumen-dokumen sensitif yang berkaitan dengan keamanan Amerika. Salah satu dokumen yang dibocorkan Assange adalah email Democractic National Committee (DNC). Dokumen itu menyebut Trump mendapat bantuan dari Rusia untuk memenangkan Pemilu AS 2016.

    Fitzgerald melanjutkan, tawaran grasi itu datang dari politisi asal California, Dana Rohrabacher. Ia mengklaim, Rohrabacher datang sebagai utusan Trump untuk menyampaikan adanya tawaran grasi. Kala itu, Assange tengah bersembunyi dari kejaran penegak hukum sebelum tertangkap di Kedubes Ekuador, London, April 2018.

    Rohrabacher membantah klaim Assange. Ia berkata bahwa dirinya tidak menemui Assange sebagai utusan Trump, melainkan atas kemauan pribadi. Tujuannya kala itu, ujar Rohrabacher, untuk mengetahui lebih jauh kasus yang menjerat Assange.

    "Yang saya katakan kepadanya, jika dia bisa memberi tahu saya siapa yang membocorkan email DNC kepadanya, maka saya akan membantunya mendapat grasi dari Trump," ujar Rohrabacher.

    Perwakilan Presiden Trump juga berkata senada. Kepala Pers Gedung Putih, Stephanie Grisham, mengatakan bahwa apa yang diklaim Julian Assange adalah kebohongan.

    "Dan Presiden Trump juga tidak kenal dekat dengan Rohrabacher selain mengetahuinya sebagai eks anggota Konggres AS. Presiden Trump tidak pernah berkomunikasi dengannya dalam subjek apapun. Saya rasa ini kebohongan kesekian kalinya soal DNC," ujar Grisham.

    ISTMAN MP | CNN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.