Pramuka AS Bangkrut, Hadapi Ratusan Gugatan Pelecehan Seksual

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perwakilan Pramuka asal Amerika Serikat menghadiri Upacara Peringatan Hari Pramuka ke-51 di Taman Wiladatika, Cibubur, Depok, Jawa Barat, Senin (3/9). TEMPO/Subekti

    Perwakilan Pramuka asal Amerika Serikat menghadiri Upacara Peringatan Hari Pramuka ke-51 di Taman Wiladatika, Cibubur, Depok, Jawa Barat, Senin (3/9). TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Di usia 110 tahun pada 8 Februari 2020, organisasi Pramuka AS bangkrut. Pernyataan bangkrut terungkap dalam dokumen pengadilan di Delaware pada Selasa pagi waktu setempat.

    Kebangkrutan Pramuka AS terjadi di tengah menghadapi ratusan gugatan hukum kasus pelecehan seksual yang dialami anak-anak Pramuka dan penurunan drastis jumlah anggota.

    Menurut laporan CNN, Pramuka AS menghadapi tuntutan kewajiban antara US$ 100 juta hingga US$ 500 juta, namun aset yang tercatat tinggal sekitar US$ 50 ribu.

    "Ini tragedi," kata Paul Mones, seorang jaksa berkantor di Los Angeles dan saat ini menangani ratusan perkara korban pelecehan seksual yang diajukan secara pribadi.

    Anak-anak Pramuka AS mengalami pelecehan seksual mulai dari tindakan pelaku menggoda mereka berulang kali, mempertontonkan pornografi, dan memaksa melakukan seks anal atau oral.

    Organisasi Pramuka AS kemudian menyatakan pihaknya sangat peduli kepada semua anak yang menjadi korban pelecehan seksual dan menyatakan permohonan maaf kepada semua pihak atas peristiwa itu.

    Organisasi Pramuka ini berjanji membawa kasus pelecehan seksual ini ke penegakan hukum. Pihaknya juga menyatakan akan membayar biaya konseling.

    Atas pernyataan bangkrut, seluruh gugatan sipil atas kasus pelecehan seksual di organisasi Pramuka AS ini ditangguhkan.

    Isu tentang Pramuka AS bangkrut sudah dilaporkan The Wall Street Journal pada awal Desember 2018 ketika organisasi itu menyewa kantor hukum Sidlye Austin LPP untuk kemungkinan mengajukan bangkrut.

    Sejak itu hingga 14 bulan kemudian, organisasi anak muda ini membolehkan anak-anak perempuan bergabung dengan Pramuka. Ini terlihat sebagai upaya untuk mendongkrak jumlah anggota Pramuka yang mengalami penurunan.

    Pekan lalu, Pramuka AS mengumumkan kerja samanya dengan 1in6, organisasi terkemuka untuk penyintas laki-laki kasus pelecehan seksual. Kerja sama ini untuk memperluas dukungan dan pelayanan Pramuka kepada korban yang membutuhkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.